Begini Cara Habibie Jinakkan Rupiah Saat Krismon

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
12 September 2019 10:08
Begini Cara Habibie Jinakkan Rupiah Saat Krismon
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden ke-3 Indonesia Baharudin Jusuf Habibie atau BJ Habibie berpulang pada usia 83 tahun, Rabu malam (11/9/2019). Habibie adalah seorang teknokrat tulen yang punya segudang prestasi dunia ini dan menjadi presiden pada saat situasi yang sulit.

Habibie menjadi Presiden ke-3 RI pada Mei 1998 setelah Soeharto menyatakan mundur pada 21 Mei 1998. Saat itu Habibie dihadapkan pada situasi yang sangat sulit, inflasi tinggi dan nilai tukar rupiah terhadap dolar membumbung tinggi.


Harga pangan, bahan bakar minyak dan kebutuhan lainnya naik yang membuat masyarakat bergejolak.


Situasi politik pun tak menguntungkan, tarik-menarik kepentingan mulai terjadi dan situasi keamanan cenderung tak terkontrol terutama di Jakarta dan beberapa kota yang sempat terjadi kerusuhan.

Kehadiran Habibie menjadi presiden baru saat itu agar tak terjadi vacum of power, karena memang dirinya kala itu menjabat wakil presiden sesuai Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) 1997. Namun tidak semua elite politik pada waktu itu bisa menerima Habibie sebagai presiden.

Kecerdasan pria yang lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 ini mampu mengatasi situasi itu semua. Habibie mulai membenahi satu-persatu persoalan Indonesia.

Pelaku ekonomi pasti ingat, Habibie merupakan sosok penyelamat rupiah. Setelah resmi menjadi presiden, Habibie langsung gerak cepat untuk mengatasi depresiasi rupiah yang saat itu berada pada level Rp 11.200/US$.

Beberapa pekan setelah dia menduduki kursi presiden, nilai tukar rupiah sempat ambrol hingga mencapai level terlemahnya sepanjang sejarah, yakni di level Rp 16.800/US$ pada 1 Juni 1998. Sentimen pasar memang sangat buruk di tengah ambruknya ekonomi negara Asia lainnya.

Habibie pun tak tinggal diam, untuk merakan gejolak rupiah ia melakukan restrukturisasi dan rekapitulasi perbankan melalui pembentukan BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) dan unit Pengelola Aset Negara. Lalu Habibie melikuidasi beberapa bank yang bermasalah.

Selain itu, Habibie juga harus mengikuti sejumlah langkah reformasi ekonomi yang disyaratkan Dana Moneter Internasional (IMF) melalui Structural Adjustment Program (SAP).

Hasilnya, dalam masa pemerintahan Habibie yang singkat, rupiah tercatat menguat 34,1%, dari Rp 11.200/US$ (20 Mei 1998) menjadi Rp 7.385/US$ (20 Oktober 1999). Rupiah bahkan sempat menyentuh level terkuatnya dalam sepanjang sejarah Indonesia, yakni pada Rp 6.550/US$ AS (28 Juni 1999).

Dunia mencatatnya sebagai krisis finansial Asia 1997, bangsa Indonesia mengenalnya sebagai krisis moneter (krismon) 1998. Setelah baht, ringgit, Peso dan dolar Singapura dihajar para spekulan mata uang, hingga nilai kursnya melemah pada Juli, pasar saham Indonesia mulai bereaksi.

Pernyataan Duka Jokowi Saat Habibie Wafat
[Gambas:Video CNBC]


Di Indonesia, bankrush (penarikan dana besar-besaran) menerpa bank-bank sejak tahun 1997 karena nasabah khawatir dana simpanan mereka hilang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh dari level psikologis 500 ke 258 (pada 6 Oktober 1998), dan disintegrasi bangsa menyeruak.

Namun demikian, Habibie mampu meyakinkan pasar global dan menjinakkan tekanan atas rupiah meski tanpa dukungan intervensi Bank Indonesia-yang kala itu belum memiliki kewenangan stabilisasi rupiah.

Gubernur BI Perry Warjiyo kini berwenang mengintervensi rupiah berkat UU No.23 tahun 1999 tentang BI yang diteken oleh Habibie.

(hps/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading