Resesi Membayangi, Investasi di Reksa Dana Masih Menarik?

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
11 September 2019 11:49
Resesi Membayangi, Investasi di Reksa Dana Masih Menarik? Foto: Reksa Dana (CNBC Indonesia/Irvin Avriano Arief)
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah menguatnya sentimen resesi dan perlambatan ekonomi global, instrumen reksa dana saham menjadi instrumen yang tetap menarik untuk berinvestasi.

Perlambatan ekonomi global ini tidak terlepas dari masih tereskalasinya perang tarif antara Amerika Serikat dan China. Kondisi ini juga menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi di Eropa, AS dan Negeri Tirai Bambu. Akibatnya, investor cenderung memilih berinvestasi di kelas aset yang aman (safe haven).

Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya mengungkapkan, reksa dana saham sebagai pilihan investasi karena memberikan potensi imbal hasil yang lebih menarik dibandingkan reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap serta reksa dana campuran. Ivan merekomendasikan aset reksa dana saham hingga akhir tahun ini.

"Dengan pertimbangan bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi global akan menjadi salah satu alasan dana asing kembali masuk ke Indonesia," kata Ivan, Rabu (11/9/2019).


Selain itu, kata dia, katalis positif yang mendorong reksa dana saham adalah terpilihnya presiden baru serta rencana pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur yang pada akhirnya akan mempercepat pertumbuhan ekonomi.

"Sehingga, untuk nasabah dengan profil risiko growth masih dapat mempertahankan alokasi saham sebesar 70% di dalam portofolio," jelad Ivan.

Commonwealth mencermati, saat isu perang dagang kembali memanas pada Agustus 2019 lalu, bursa saham domestik memang sempat terkoreksi 0,97%, namun masih lebih rendah dari penurunan di pasar saham Amerika Serikat, tercatat S&P 500 turun 1,81%, dan acuan pasar saham sharia Asia Pasifik, FTSE sharia Asia Pasifik turun 2,11%. Karena sebagai negara berkembang, porsi terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah konsumsi dalam negeri.

Hal ini, jelas dia, menunjukkan bahwa Indonesia relatif kebal terhadap kemelut perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Pilih-pilih Reksa Dana Terproteksi Saat Ada Ancaman Resesi
[Gambas:Video CNBC]

Pada September ini, kata dia, investor akan fokus pada dua hal; yakni perundingan lanjutan antara Amerika Serikat dan Tiongkok terkait perang dagang dan ekspektasi bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve yang diperkirakan akan kembali melonggarkan kebijakan moneter dengan menurunkan suku bunga di bulan September 2019.

"Pelonggaran kebijakan moneter ini dapat menjadi trigger bagi investor untuk kembali masuk ke investasi," pungkasnya. (hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading