Salah Pilih Saham, Penyebab Reksa Dana Saham Amblas 40%

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
11 September 2019 11:13
IHSG cenderung volatil karena sentimen-sentimen negatif dari perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China dan kemungkinan terjadinya resesi global.
Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari awal tahun hingga perdagangan kemarin hanya mengalami kenaikan sebesar 2,30%. IHSG cenderung volatil karena sentimen-sentimen negatif dari perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China dan kemungkinan terjadinya resesi global.

Kinerja IHSG yang cenderung landai tersebut menyebabkan kinerja reksa dana, terutama reksa dana saham, belum mampu memberikan imbal hasil (return) yang baik bagi investor.

Berdasarkan data Infovesta Utama, sejak awal tahun hingga Agustus 2019 (year to date), kinerja 226 reksa dana saham yang tercermin dari Indeks RD Saham Infovesta 90 (Infovesta Equity Fund Index 90) minus 3,85%. Padahal pada periode yang sama, IHSG justru berkinerja positif 2,16%.

Head of Market Research Infovesta Wawan Hendrayana mengatakan di pasar saham banyak investor yang memilih untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking) karena sentimen negatif yang mayoritas masih mendominasi.


"Kalau secara umum sih kan memang kita juga Agustus negatif jadi reksadana saham mengikuti. Fokus utamanya karena asing keluar hampir Rp 9 triliun dan dari awal tahun net sell asing," kata Wawan kepada CNBC Indonesia, Selasa (11/9/2019).

Hingga kemarin sore, tercatat sejak awal tahun ini hingga penutupan perdagangan kemarin Selasa asing di pasar reguler mencatatkan net sell mencapai Rp 11,16 triliun, sedangkan secara month to date net sell asing masih mencapai Rp 6,09 triliun di pasar reguler.

Penyebab lainnya, menurut Wawan, adalah di tahun ini kurang tepatnya pemilihan saham-saham yang dijadikan aset dasar (underlying). Ini menjadi penyebab turunnya kinerja reksa dana saham sepanjang tahun.

Beberapa reksadana yang memberikan kinerja baik hanya reksadana dengan underlying saham-saham sektor keuangan, properti, infrastruktur telekomunikasi.

"Yang bagus itu sebenarnya ada sektor yang positif, yaitu di sektor keuangan karena sentimen suku bunga turun, properti dan infrastruktur terutama di telekomunikasi karena laporan keuangan yang baik. Jadi reksadana positif biasanya karena mereka stock picking bagus di sektor ini," jelas dia.

Sebaliknya, reksa dana berkinerja paling moncer di tahun ini adalah reksadana fixed income yang dicerminkan oleh Infovesta Fixed Income Fund Index. Dari ini indeks tercermin bahwa reksadana jenis ini memberikan keuntungan sebesar 7,43% sepanjang tahun hingga akhir Agustus.

Menurut Wawan hal ini adalah dampak dari banyaknya investor yang mengalihkan investasinya dari saham ke instrumen yang lebih aman, seperti surat utang negara.

"Kalau fixed income karena turunnya suku bunga, jadi returnnya tinggi," imbuh dia.

Banyaknya reksa dana (RD) saham yang berkinerja ekstrim negatif sejak awal tahun hingga Agustus 2019 turut membebani performa industri reksa dana dan pasar modal secara umum dengan mencatatkan return (imbal hasil) negatif.

Berdasarkan data Infovesta Utama, sejak awal tahun hingga Agustus 2019 (year to date), kinerja 226 reksa dana saham yang tercermin dari Indeks RD Saham Infovesta 90 (Infovesta Equity Fund Index 90) minus 3,85%. Padahal pada periode yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru berkinerja positif 2,16%.

Simak! Deretan Reksa Dana Ini Amblas Lebih dari 40%
[Gambas:Video CNBC]

Masih mengacu data tersebut, dari total 226 RD saham, sebanyak 107 produk berkinerja negatif, dan 36 produk di antaranya turun lebih dari -10%, sementara 25 produk lainnya bahkan anjlok lebih dari 40%.

Nah, sebanyak 25 produk RD saham dengan kinerja yang di luar kewajaran inilah yang masih membebani Indeks RD Saham Infovesta 90 sehingga performa reksa dana negatif sejak awal tahun.

Indeks RD Saham Infovesta 90 sudah mengecualikan 10% reksa dana yang kinerjanya terlalu ekstrim positif dan ekstrim negatif, masing-masing 5%.
(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading