Grafik Yuan vs Rupiah Sudah Semakin Curam

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
02 September 2019 20:07
Yuan hari ini melemah 0,11% ke level Rp 1.978,47. Pelemahan yuan melanjutkan performa buruk sepanjang bulan Agustus yang anjlok 2,7%
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang yuan China lagi-lagi melemah melawan rupiah pada perdagangan Senin (2/9/19). Mata Uang Negeri Panda kini semakin menjauhi level Rp 2.000.

Yuan pada hari ini melemah 0,11% ke level Rp 1.978,47 di pasar spot, melansir data Refinitiv. Pelemahan yuan melanjutkan performa buruk sepanjang bulan Agustus yang anjlok 2,7% melawan rupiah, grafik pergerakannya pun menjadi semakin curam menurun.




Babak baru perang dagang China dengan Amerika Serikat (AS) memberikan beban bagi yuan. Pada 1 September, AS mengenakan bea masuk 15% untuk importasi produk asal China senilai US$ 125 miliar di antaranya smartwatch, televisi layar datar, dan alas kaki. Sebelumnya, total produk China yang sudah terkena bea masuk di AS mencapai US$ 250 juta.

Sementara China mengenakan bea masuk 5-10% untuk importasi produk made in the USA senilai US$ 75 miliar. Bea masuk baru ini mencakup 1.717 produk, termasuk minyak mentah. Ini adalah kali pertama minyak asal AS dibebani bea masuk di China.


Tereskalasinya perang dagang tentunya berisiko membuat perekonomian kedua negara semakin melambat, bahkan akan menyeret pertumbuhan ekonomi global. Untuk diketahui, pada tahun 2018, International Monetary Fund (IMF) mencatat perekonomian AS tumbuh sebesar 2,857%, menandai laju pertumbuhan ekonomi tertinggi sejak tahun 2015.

Pada tahun 2019, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi AS melambat menjadi 2,6%. Untuk tahun 2020, pertumbuhan ekonomi AS diproyeksikan kembali merosot menjadi 1,9% saja.

Sementara untuk China, pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2019 diproyeksikan melandai ke level 6,2%, dari yang sebelumnya 6,6% pada tahun 2018. Pada tahun depan, pertumbuhannya kembali diproyeksikan melandai menjadi 6%.


Terus melemahnya yuan sebenarnya bukan kabar bagus bagi Indonesia. Pasar dalam negeri berpotensi kebanjiran produk Made in China akibat kurs yuan yang murah. Peningkatan impor tanpa diikuti kenaikan ekspor tentunya membuat defisit neraca dagang semakin membengkak, dan akan berpengaruh ke defisit transaksi berjalan (current account).

TIM RISET CNBC INDONESIA


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading