Analisis

Emas "Galau" Merespons Babak Baru Perang Dagang AS-China

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
02 September 2019 13:50
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia melesat naik begitu perdagangan Senin (2/9/19) dibuka, tetapi setelahnya sinar logam mulai ini meredup dan penguatannya terus terpangkas.

Babak baru perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China yang resmi dimulai 1 September kemarin mendongkrak kinerja emas.

AS mulai mengenakan bea masuk 15% untuk importasi produk asal China senilai US$ 125 miliar di antaranya smartwatch, televisi layar datar, dan alas kaki. Sebelumnya, total produk China yang sudah terkena bea masuk di AS mencapai US$ 250 juta.


Sementara itu, China mengenakan bea masuk 5-10% untuk importasi produk made in the USA senilai US$ 75 miliar. Bea masuk baru ini mencakup 1.717 produk, termasuk minyak mentah. Ini adalah kali pertama minyak asal AS dibebani bea masuk di China.


Resmi berlakunya tambahan tarif impor tentunya membuat pertumbuhan ekonomi global terancam semakin melambat.

Untuk diketahui, pada 2018 International Monetary Fund (IMF) mencatat ekonomi AS tumbuh 2,857%, menandai laju pertumbuhan ekonomi tertinggi sejak tahun 2015. Namun pada 2019, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi AS melambat menjadi 2,6%. Untuk tahun 2020, pertumbuhan ekonomi AS diproyeksikan kembali merosot menjadi 1,9% saja.

Sementara untuk China, pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2019 diproyeksikan melandai ke level 6,2%, dari yang sebelumnya 6,6% pada tahun 2018. Pada tahun depan, pertumbuhannya kembali diproyeksikan melandai menjadi 6%.

Dua negara tersebut merupakan raksasa ekonomi dunia, lalu lintas arus barang menjadi tersendat akibat perang dagang AS-China yang membuat ekonominya melambat, dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi global.


Babak baru perang dagang tentunya membuat perekonomian dunia terancam lebih melambat lagi, emas tentunya mendapat keuntungan dari statusnya sebagai aset aman (safe haven). Tetapi di saat yang sama, perundingan dagang AS-China yang tetap akan berlangsung di bulan ini membuat harga emas belum sanggup menguat lagi.

Pertemuan tersebut ditegaskan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan China dan AS memang masih akan melanjutkan dialog di bulan September.

Ada harapan kedua negara akan mengakhiri perang dagang, harapan itu membuat harga emas belum bisa naik lagi, apalagi setelah mencatat kenaikan hampir lebih dari 7% di bulan Agustus. Kenaikan yang cukup cepat, dan tentunya rentan diterpa aksi ambil untung (profit taking).

(BERLANJUT KE HALAMAN 2)


(pap/pap)
1 dari 2 Halaman
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading