Sebulan IHSG Diobral Asing, Tapi 5 Emiten Ini Diburu Rp 2,3 T

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
26 August 2019 12:15
Sebulan IHSG Diobral Asing, Tapi 5 Emiten Ini Diburu Rp 2,3 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Kejutan manis dari Rapat Dewan Gubernur (RGD) Bank Indonesia (BI) pada Kamis (22/8/2019) pekan lalu tampaknya tidak dapat menjadi katalis positif untuk mendongkrak kinerja Bursa Efek Indonesia, terutama pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Kejutan manis yang dimaksud adalah pemangkasan suku bunga acuan, atau BI 7-Day Reverse Repo Rate, sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5%.

Namun terhitung sejak keputusan tersebut diumumkan BI (22/8/2019) hingga berita ini dimuat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 0,86%.



Padahal, dalam pidatonya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa BI akan menjaga bauran kebijakan yang akomodatif seiring dengan ekspektasi inflasi yang rendah dan meyakini bahwa imbal hasil aset keuangan di tanah air akan menjadi lebih menarik dibandingkan negara berkembang lainnya.

"Kami yakin imbal hasil aset domestik akan lebih menarik dibandingkan sejumlah negara emerging market lain," kata Perry di Gedung BI, Kamis (22/8/2019).

Mengacu data BEI, investor asing juga terlihat meninggalkan pasar saham Ibu Pertiwi dalam sebulan terakhir. Tercatat aksi jual bersih asing (net sell) mencapai Rp 8,64 triliun (per pukul 10:39 WIB).

Akan tetapi, meskipun bursa saham utama Indonesia diobral investor asing, masih terdapat emiten-emiten yang diburu dan mampu mencatatkan nilai beli bersih (net buy) yang cukup besar, yakni PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL).



Dari grafik di atas terlihat bahwa market leader industri telekomunikasi yakni TLKM, memiliki pamor yang sangat tinggi di mata investor asing, di mana tercatat aksi beli mencapai Rp 1,37 triliun, kemudian disusul oleh ICBP senilai Rp 298,53 miliar dan WIKA sebesar Rp 214,17 miliar.

TLKM terus dilirik para investor terutama seiring dengan laporan Fitch Ratings terbaru yang menuliskan bahwa emiten pelat merah tersebut berhasil menjadi satu-satunya perusahaan dengan rating headroom yang tinggi, di antara para pelaku sektor telekomunikasi di Asia Pasifik.

TLKM berhasil mengungguli pemain asing seperti Singapore Telecomunication Limited (Singtel), SK Telecom Co Ltd (SKT), KT Corporation, dan Globe Telecom Inc.

Sebagai informasi, rating headroom mengukur seberapa banyak ruang yang dimiliki perusahaan sebelum akhirnya mencapai titik penurunan peringkat. Jadi, semakin tinggi rating headroom, semakin kecil peluang penurunan peringkat utang perusahaan.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(dwa/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading