Umumkan Rights Issue, Harga Saham BRI Agro Melesat 11,9%

Market - Donald Banjarnahor, CNBC Indonesia
22 August 2019 17:09
Umumkan Rights Issue, Harga Saham BRI Agro Melesat 11,9%
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga saham PT BRI Agroniaga Tbk (AGRO) melesat 11,9% setelah perseroan mengumumkan rencana penawaran umum terbatas (rights issue).

Harga saham emiten anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ini naik ke Rp 282/saham, naik 11,9%, yang kemudian ditutup pada harga Rp 274, naik 8,73% dibandingkan dengan sehari sebelumnya.

Pada perdagangan hari ini volume perdagangan mencapai 22,37 juta kali dengan nilai transaksi Rp 6,05 miliar. Volume perdagangan tersebut relatif besar bila dibandingkan dengan rata-rata harian yang dikisaran 4 juta kali.



Sebelumnya, BRI Agro menyatakan akan menggelar Penawaran Umum Terbatas dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (right issue) alias right issue pada September 2019 mendatang.

BRI Agro mengincar dana Rp 700 miliar dengan melepas 3 miliar saham baru atau setara dengan kepemilikan 12,32%.

Direktur Utama BRI Agro Agus Noorsanto mengatakan dengan penambahan modal dari rights issue maka perseroan bisa naik kelas ke Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) III dari sebelumnya BUKU II.

"Dengan menjadi Bank BUKU III maka BRI Agro bisa meningkatkan usaha dengan membuka laku pandai dan layanan lain," ujar Agus Rabu (21/8/2019).

Hingga akhir Juni 2019, ekuitas BRI Agro mencapai Rp 4,49 triliun. Bila aksi korporasi ini terlaksana maka BRI Agro akan memiliki ekuitas sekitar Rp 5,19 triliun atau telah menembus batas Bank Buku III.

Agus menambahkan harga kisaran rights issue akan diumumkan sebentar lagi. Namun dia memberi petunjuk bahwa harga tersebut minimal 1 kali nilai buku (book value) dan masih di bahwa harga saham saat ini. Sebagai informasi harga saham BRI Agro pada hari ini ditutup pada level Rp 252/saham.

Bank BRI Agro mencatatkan laba tahun berjalan Rp 78,29 miliar pada Semester I-2019, turun sekitar 40,2% dibandingkan dengan setahun sebelumnya.


Agus menjelaskan penurunan laba karena perseroan meningkatkan pencadangan guna menghadapi penerapan PSAK 71 pada tahun depan. Peningkatan pencadangan juga dilakukan guna mengantisipasi naiknya kredit bermasalah (non performing loan/NPL).

Pada akhir Juni 2019, posisi NPL gross berada pada 4,43% dibandingkan setahun sebelumnya yang berada pada 2,2%. Meski NPL meningkat, namun Agus tak khawatir dan tetap yakin bisa turun ke level 3% pada akhir tahun ini.

"Kami akan lakukan sejumlah strategi agar NPL turun, seperti restrukturisasi sampai lelang aset jaminan debitur," ujarnya.

[Gambas:Video CNBC]



(dob/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading