ECB Gelontorkan Stimulus Besar, Pertanda Currency War?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
16 August 2019 20:10
ECB Gelontorkan Stimulus Besar, Pertanda Currency War? Foto: Mata uang (REUTERS/Cathal McNaughton)
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Euro melemah tajam dalam beberapa hari terakhir akibat spekulasi adanya stimulus moneter dari European Central Bank (ECB) dalam jumlah besar.

Hingga perdagangan Kamis kemarin mata uang euro melemah tiga hari beruntun, dan berlanjut hingga hari ini. Pada pukul 19:50 WIB, euro diperdagangkan di kisaran US$ 1,1072 atau melemah 0,31% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Total hingga hari ini, mata uang 19 negara ini telah melemah 1,25%


Selain menyebabkan jebloknya kurs euro, stimulus besar yang akan digelontorkan oleh ECB kembali mengingatkan pelaku pasar akan kemungkinan terjadinya currency war atau perang mata uang.




Awal pekan lalu, Bank Sentral China (People's Bank of China/PBoC) mengejutkan pasar finansial dengan mendevaluasi nilai tukar yuan melawan dolar hingga ke level terlemah dalam lebih dari satu dekade terakhir. Setelahnya PBoC secara konsisten menetapkan nilai tengah yuan lebih lemah, hingga kini berada di atas level 7/US$.

Level yuan 7/US$ dikatakan menjadi kritis karena akan memberikan keunggulan kompetitif bagi China. Produk-produk dari China akan menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga permintaan ekspor bisa meningkat. China bahkan diberi label "Manipulator Mata Uang" oleh AS.

Kebijakan PBoC membuat khawatir negara-negara lain yang juga mengandalkan ekspor sebagai salah satu roda perekonomian, tidak terkecuali negara-negara di kawasan zona euro seperti Jerman.


Sejak awal Agustus mata uang euro terus menunjukkan penguatan melawan dolar AS, hal ini tentunya membuat produk-produk dari blok 19 negara ini kalah kompetitif. Stimulus moneter menjadi salah satu cara melemahkan nilai tukar mata uang.

Spekulasi ECB akan memberikan stimulus moneter memang sudah kencang dalam beberapa pekan terakhir, tetapi berapa besarnya yang masih menjadi tanda tanya. Presiden ECB, Mario Draghi, sebelumnya bahkan bersikap tidak terlalu dovish saat mengumumkan kebijakan moneter 25 Juli lalu, membuat pelaku pasar berspekulasi stimulus yang akan diberikan nanti tidak terlalu besar. 

Saat itu Presiden ECB yang akan digantikan oleh Christine Lagarde pada 1 November ini mengatakan merosotnya aktivitas sektor manufaktur di zona euro akibat melemahnya perdagangan internasional yang dipenuhi ketidakpastian (akibat perang dagang). Tetapi Draghi melihat aktivitas sektor jasa masih cukup tangguh, dan pasar tenaga kerja terus membaik.

Yang menarik, Draghi juga mengatakan dalam jangka menengah inflasi diperkirakan akan meningkat akibat berlanjutnya ekspansi ekonomi serta pertumbuhan upah yang cukup bagus.

Pernyataan terkait inflasi tersebut membuat pelaku pasar melihat ECB tidak akan terlalu agresif dalam memberikan stimulus moneter. Pemangkasan suku kemungkinan akan dilakukan satu kali saja, dan program pembelian aset (obligasi dan surat berharga) atau yang dikenal dengan quantitative Easing (QE) juga tidak terlalu besar jumlahnya.

Namun kini hal tersebut berubah setelah anggota dewan ECB, Olli Rehn, mengatakan paket stimulus akan diumumkan pada bulan September dan seharusnya memberikan dampak yang maksimal dan signifikan, serta kemungkinan lebih besar dari ekspektasi pelaku pasar.

Agaknya Rehn sengaja melempar isu tersebut untuk menekan kurs euro akan tidak terus menguat melawan dolar AS. Pada pertengahan Juni lalu, Mario Draghi sempat disemprot oleh Presiden AS Doland Trump setelah Draghi mengutarakan akan menggelontorkan stimulus moneter, sehingga kurs euro kala itu jeblok.

ECB Gelontorkan Stimulus Besar, Pertanda Currency War?Foto: Kicauan Presiden Trump
Sumber: CNBC International

Trump selama ini memang selalu mengritik bank sentral yang mata uangnya terus mengalami pelemahan terhadap dolar AS, dan tentunya memberikan keunggulan kompetitif dalam perdagangan internasional.

Jika benar nantinya ECB akan menggelontorkan stimulus besar, dan kurs euro terus melemah, tanda-tanda currency war akan semakin nyata.


TIM RISET CNBC INDONESIA


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading