Emas Lanjutkan Kenaikan Harga, What's Next?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
13 August 2019 13:40
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas kembali menguat pada perdagangan Senin (12/8/19) meski sempat mengalami koreksi di awal perdagangan. Harga emas bahkan langsung melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (13/8/19) pagi ini.

Situasi dan kondisi pasar global memang masih mendukung berlanjutnya penguatan emas. Perang dagang plus bumbu potensi currency war perang mata uang, kebijakan moneter longgar dari banyak bank sentral dunia, belum lagi melihat adanya kerusuhan di Hong Kong.

Pelaku pasar kini semakin pesimistis perang dagang antara Amerika Serikat dengan China akan segera berakhir. Efeknya perekonomian global akan semakin melambat, dan ancaman resesi semakin nyata.



Bank Goldman Sachs kini tidak lagi mengharapkan kesepakatan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia itu terjadi sebelum pemilihan presiden AS tahun 2020 nanti. Bahkan lembaga keuangan asal AS ini memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Paman Sam untuk kuartal IV-2019 menjadi 1,8% dari sebelumnya 2,0%.

Sementara itu, bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) kembali mendepresiasi nilai tukar yuan terhadap dolar AS pada hari ini. Langkah dari PBoC tersebut dikhawatirkan akan membuat AS ikut melemahkan dolar, dan currency war akan segera dimulai.

PBoC menetapkan nilai tengah yuan di level 7,0362/US$ lebih lemah dari kemarin 7,0136/US$. Penasehat perdagangan Presiden Trump, Peter Navaro, pada Jumat (9/8/19) lalu mengatakan AS akan mengambil tindakan keras jika Beijing terus mendepresiasi mata uangnya.

"Jelas, mereka (China) memanipulasi mata uangnya dari sudut pandang perdagangan" kata Navaro dalam acara Closing Bell CNBC International pada Jumat lalu. "Jika mereka terus melakukannya, kita (AS) akan mengambil tindakan keras pada mereka" tegas Navaro.


Jika perang mata uang terjadi, ancaman resesi akan semakin menjadi nyata. Kondisi ketidakpastian global yang sangat tinggi membuat bank sentral AS akan kembali agresif dalam memangkas suku bunga di tahun ini.

Data piranti FedWatch milik CME Group menunjukkan probabilitas suku bunga The Fed 1,25%-1,5% di bulan Desember sebesar 42%, menjadi yang tertinggi dibandingkan probabilitas level lainnya. Persentase tersebut tidak terlalu jauh dengan probabilitas suku bunga sebesar 1,5%-1,75% sebesar 40,5%.

Benar <i>Kan</i> Emas Naik Lagi, <i>What's Next</i>?Grafik: Probabilitas Suku Bunga The Fed Bulan Desember 
Sumber: CME Group

Data tersebut menunjukkan pelaku pasar melihat The Fed akan memangkas suku bunga setidaknya dua kali lagi tahun ini. Pemangkasan suku bunga paling cepat akan dilakukan pada September sebesar 25 basis poin menjadi 2%-2,25% dengan probabilitas sebesar 81,2%, berdasarkan peranti FedWatch siang ini.

Emas merupakan aset tanpa imbal hasil, juga aset lindung nilai terhadap inflasi sehingga penurunan suku bunga oleh The Fed akan menguntungkan bagi emas karena opportunity cost yang berkurang.

Pada pekan lalu ada empat bank sentral yang memangkas suku bunga acuannya, tiga diantaranya lebih besar dari prediksi pelaku pasar. Kebijakan bank sentral di berbagai negara tersebut menunjukkan perekonomian global sedang mengalami pelambatan yang serius.

Bank sentral melonggarkan kebijakan moneter guna menambah likuiditas di pasar. Harapannya saat likuiditas bertambah, roda perekonomian bergerak lebih kencang, rata-rata upah meningkat, belanja konsumen naik, dan pada akhirnya inflasi terkerek naik.

Ketika ada ekspektasi percepatan laju inflasi, emas tentunya mendapat angin segar. Jumlahnya yang terbatas membuat emas menjadi instrumen lindung inflasi yang sempurna.

(BERLANJUT KE HALAMAN 2)


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading