Wow! 6 Bulan, Return Emas Ungguli 11 Investasi Lain

Market - tahir saleh & Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
26 June 2019 08:18
Wow! 6 Bulan, Return Emas Ungguli 11 Investasi Lain
Jakarta, CNBC Indonesia - Tingkat keuntungan (return) investasi instrumen emas di pasar spot unggul dibandingkan dengan 11 instrumen investasi ritel lainnya, dihitung sejak awal tahun hingga perdagangan 25 Juni 2019 atau year to date (ytd). 

Data yang diolah Tim Riset CNBC Indonesia menunjukkan emas di pasar spot naik 11,32% menjadi US$ 1.427 per troy ounce dibanding US$ 1.282 per troy ounce pada akhir Desember 2018. 

Nilai tersebut diikuti instrumen serupa yaitu emas Antam yang menjadi produk investasi ritel domestik dalam mata uang rupiah, dengan return cukup tinggi yaitu 7,79%. 


Kedua instrumen tersebut memang saling terkait, karena harga emas Antam biasanya memfaktorkan pergerakan harga emas di pasar spot global, apalagi sejak awal tahun harga logam mulia itu menguat didukung oleh dua hal beriringan yaitu panasnya tensi global berkaitan dengan perang dagang AS-China serta pelemahan dolar AS. 


Selain itu, patut diingat juga bahwa return dalam simulasi ke-12 instrumen investasi barulah potensi keuntungan atau potensi kerugian yang hanya dapat direalisasikan jika instrumennya dicairkan.

Perlu dipahami juga bahwa segala potensi investasi baik dari sisi return dan loss turut menunjukkan bahwa setiap instrumen investasi memiliki sifat high risk= high return, dan penerapannya disesuaikan dengan karakteristik dan profil investasi-risiko masing-masing individu. 

Instrumen lain yang dibandingkan adalah obligasi pemerintah (tercermin dari INDOBeX Government Total Return) bersama obligasi korporasi yang tercermin dari INDOBeX Corporate Total Return terbitan PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) atau Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), reksa dana pendapatan tetap dari Infovesta Fixed Income Fund Index, dan instrumen yang sangat statis yaitu deposito berjangka. 

Angka deposito itu didapatkan dari rata-rata bunga deposito bank umum bertenor 6 bulan dari Desember 2018-April 2019 dengan pembagian pro rata sejak awal tahun hingga 25 Juni 2019, didapatkan dari Statistik Perbankan Indonesia.  

Deposito bisa memiliki return lebih tinggi dari produk pasar modal seperti saham, obligasi pemerintah, reksa dana campuran, reksa dana pasar uang, dan reksa dana saham yang relatif terkoreksi karena terpengaruh kondisi perdagangan dunia. 

Sejak awal tahun, stabilitas pasar keuangan global fluktuatif dan cenderung dipengaruhi oleh cuitan Presiden AS Donald Trump di Twitter, terhadap lawan-lawan politiknya. 

VP Head of Product PT Infovesta Utama Edbert Suryajaya, menilai besarnya return obligasi korporasi sejak awal tahun dipengaruhi oleh kupon instrumen yang tinggi, bukan karena kenaikan harga karena instrumen itu relatif tidak likuid di pasar sekunder. 

Karena keunggulan itu, lanjutnya, besar kemungkinan reksa dana pendapatan tetap (RD fixed income) turut terpengaruh oleh faktor positif dari unggulnya return instrumen obligasi korporasi dan obligasi negara yang harganya sudah naik tinggi sejak awal tahun. 

"RD pendapatan tetap yang isinya obligasi korporasi bagus sebagai buffer karena pergerakannya cenderung statis, tetapi downside-nya adalah potensi return biasa lebih kecil dibandingkan dengan yang berisi obligasi pemerintah," ujarnya, Selasa sore (25/6/19).



Selanjutnya, di bawah deposito ada reksa dana campuran (Infovesta Balanced Fund Index), reksa dana pasar uang (Infovesta Money Market Fund), dan pasar saham yang ditunjukkan oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 

Pasar saham ternyata masih lebih menguntungkan investornya dibanding investasi di dolar AS yang hanya unggul tipis 1,77% dibanding nilai tukar rupiah.  

Di sisi lain, reksa dana saham (Infovesta Equity Fund Index) masih membukukan return negatif atau kerugian (loss) sejak awal tahun -2,85%. 

Hal ini menunjukkan bahwa pasar saham yang diwakilkan IHSG masih lebih memberikan return kepada investornya sejak awal tahun dibanding reksa dana yang dikelola manajer investasi. 

Secara khusus, meskipun return obligasi pemerintah sudah cukup besar, Edbert mengatakan potensi penguatan obligasi pemerintah masih akan lebih besar lagi ke depannya mengingat prediksi melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia dan potensi penurunan suku bunga acuan di hampir seluruh negara utama dunia, termasuk Indonesia. 

"Harga obligasi bisa naik sehingga reksa dana [berbasis obligasi pemerintah] juga dapat mencetak capital gain [keuntungan investasi]."  


TIM RISET CNBC INDONESIA


(irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading