Andai Beli Emas 10 Tahun Lalu, Jual Sekarang Cuan 110%!

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
25 June 2019 11:58
Andai Beli Emas 10 Tahun Lalu, Jual Sekarang Cuan 110%!
Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan harga emas memang cenderung liar akhir-akhir ini. Bagaimana tidak, hanya dalam kurun waktu satu bulan, kenaikan harga emas mencapai 10%.

Sejumlah sentimen seperti perang dagang Amerika Serikat (AS)-China hingga ramalan penurunan suku bunga acuan The Fed terbukti mampu mendorong harga emas ke posisi tertinggi dalam 6 tahun terakhir.

Hal tersebut membuat banyak pihak mulai tergiur untuk berinvestasi dalam bentuk emas.


Benarkah investasi emas menguntungkan?

Untuk mengetahui hal itu, Tim Riset CNBC Indonesia menengok perjalanan harga emas dalam 10 tahun terakhir.




Tercatat pada perdagangan 10 tahun lalu, tepatnya tanggal 25 Juni 2009, harga emas global di pasar spot berada di posisi US$ 938,75/troy ounce.  Sementara pada perdagangan hari ini, Selasa (26/6/2019) hingga pukul 10:30 WIB harga emas global sudah menyentuh level US$ 1.427,98/toy ounce.

Artinya, harga emas global telah naik hingga 52,1% dalam waktu 10 tahun.

Sumber: Refinitiv


Namun perlu diingat bahwa emas global ditransaksikan dalam dolar. Bagi konsumen Indonesia, perhitungan nilai aset juga harus mempertimbangkan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Sepuluh tahun lalu, kurs rupiah berada di level Rp 10.250/US$.

Artinya degan memegang emas seberat 10 gram, pada saat itu total nilai asetnya adalah Rp 2.992.500 (1 troy ounce = 31,1 gram). Bila 10 gram emas tersebut terus dipertahankan hingga saat ini, maka total nilai asetnya akan berkembang 110% atau lebih dari dua kali lipat menjadi Rp 6.277.379

Itu terjadi karena pada saat ini, kurs rupiah berada di level Rp 14.135/US$.

Namun itu kan harga emas global. Bagaimana dengan di Indonesia?

Kasus serupa juga terjadi apabila berinvestasi dalam bentuk emas yang diproduksi PT Antam Tbk (ANTM).

Berdasarkan data historis, harga 1 gram emas Antam 10 tahun lalu hanya sebesar Rp 320.000. Dengan asumsi tidak ada perbedaan harga antara ukuran emas yang berbeda, maka 10 gram emas akan bernilai Rp 3,2 juta.

Sementara hari ini, harga 1 gram emas Antam sudah mengembang menjadi Rp 713.000.

Dengan asumsi yang sama (tidak ada perbedaan harga antar ukuran), nilai aset 10 gram emas Antam yang telah dibeli 10 tahun lalu sudah berkembang menjadi  Rp 7,13 juta saat ini atau naik hingga 123%.

Dari dua kasus tersebut (emas global dan Antam) dapat terlihat bahwa dalam waktu 10 tahun, investasi emas akan menghasilkan imbal hasil lebih dari 100%. Perbedaan imbal hasil emas global dan emas Antam juga tidak terlalu besar, hanya 13%.

Sebagai catatan, harga yang menjadi acuan adalah harga beli konsumen. Antam memberlakukan harga yang berbeda untuk beli kembali (buyback). Adapun buyback merupakan harga yang akan dibayar Antam pada pihak yang menjual emasnya.

Bagaimana bila dibandingkan dengan saham?

Agaknya bila dibandingkan dengan saham, investasi emas memang kurang menguntungkan. Pasalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah melonjak hingga 209,13% dalam 10 tahun terakhir.

Artinya, jika berinvestasi Rp 3,2 di pasar saham 10 tahun lalu, ada peluang untuk berkembang menjadi Rp 9,9 juta pada hari ini. Bayangkan, nilai asetnya bisa berkembang menjadi tiga kali lipat.

Foto: ihsg


Tentunya perbedaan saham pilihan juga akan menentukan besaran imbal hasil investasi saham. Bisa lebih tinggi, atau lebih rendah. Pun juga bisa merugi.

Sederet fakta tersebut menjadi alasan emas lebih sering dijadikan instrumen pelindung nilai (hedging) alih-alih investasi. Pergerakan harganya cenderung lebih stabil ketimbang saham. Sesuai hukum dasar investasi, dimana risiko yang tinggi akan menghasilkan keuntungan lebih.

Perlu diingat bahwa acuan perhitungan nilai aset pada kasus ini menggunakan rupiah. Perhitungan nilai aset dengan acuan dolar AS bisa berbeda.

TIM RISET CNBC INDONESIA




(taa/taa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading