Begini Ramalan Suram Harga Emas & Faktor Pemicunya

Market - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
29 August 2021 13:20
Gold bars are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas mengalami tren penurunan sejak sempat mencapai level tertinggi pada 7 Agustus tahun lalu lalu senilai US$2.072,49/troy.

Sementara pada Kamis (25/8/2021), harga emas menurun ke bawah US$1.800/troy ons. Refinitiv melaporkan pukul 06.10 WIB, harga emas tercatat US$1.790,39/troy ons atau turun 0,02% dari hari Rabu sebelumnya.

Analis Komoditas Reuters, Wang Tao bahkan memprediksi harga emas masih mengalami penurunan. Kemungkinan harganya masih akan menurun hingga US$1.773/troy ons.


"Lebih dari itu, kegagalan menembus US$ 1.800/troy ons akan membawa kehancuran," kata Wang dalam risetnya, dikutip Minggu (29/8/2021).

Dia menambahkan tak yakin harga emas dapat naik ke level US$1.828-1.861/troy ons. Tren kenaikan juga sudah selesai dan pola penurunannya telah terbentuk, ungkapnya.

"Harga emas hari ini akan bergerak di kisaran US$ 1.775-1.773/troy ons. Divergensi bearish di RSI memberi konfirmasi hal tersebut," kata dia.

Sebagai informasi, harga emas sempat menguat pada 18 Agustus 2021 lalu dengan US$2.000/troy ons. Namun setelah itu kembali anjlok dan tak kembali lagi ke harga itu.

Penurunan harga emas juga sempat terjadi pada 8 Maret dengan US$1.676/troy ons. Lalu kembali naik hingga US$1.900/troy ons di akhir Mei, itupun hanya bertahan selama beberapa hari berikutnya.

Kabarnya tren penurunan yang dialami emas disebakan oleh isu tapering atau pengurangan pembelian aset oleh bank sentral AS, The Fed.

Sebab hal yang sama pernah terjadi pada tahun 2013. Saat itu harga emas dunia anjlok lebih dari 45% dari level tertinggi US$1.920/troy ons pada September 2011.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading