Laba Naik 17%, Induk Tepung Rose Brand Bagi Dividen Rp 22 M

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
21 June 2019 13:25
Laba Naik 17%, Induk Tepung Rose Brand Bagi Dividen Rp 22 M
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Budi Starch & Sweetener Tbk (BUDI), produsen tepung beras merek Rose Brand, memutuskan untuk membagikan dividen tunai kepada para pemegang saham senilai Rp 22,49 miliar. Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perusahaan yang digelar Jumat ini (21/6/2019).

Selain membagikan dividen, dalam keterangan resmi, manajemen menyebutkan dana senilai Rp 500 juta dari laba bersih ditetapkan sebagai dana cadangan, sementara sisa laba akan digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan.

Tahun lalu, perseroan mengantongi laba bersih senilai Rp 48,06 miliar, tumbuh 17% dari laba bersih tahun sebelumnya yang senilai Rp 41,07 miliar.



Pendapatan perusahaan tumbuh 5,4% menjadi Rp 2,64 triliun di akhir Desember 2018 dari Rp 2,51 triliun di akhir Desember 2017.

BUDI merupakan salah satu perusahaan yang merupakan bagian dari Sungai Budi Group (SBG) dan bermarkas di Lampung. Perusahaan ini memproduksi tepung tapioka dan sweetener yang meliputi glukosa, fruktosa, maltodextrin dan sorbitol.

Pada Jumat ini, saham BUDI menguat 0,98% di level Rp 103/saham dengan kapitalisasi pasar Rp 463 miliar dengan pertumbuhan harga saham secara tahun berjalan atau year to date naik 7,29%.

Situs resmi perseroan mencatat bahwa kelompok usaha Sungai Budi Group (SBG) didirikan di Lampung pada 1947, hanya beberapa saat setelah Indonesia merdeka. Bisnis awal SBG meliputi perdagangan kopi, lada hitam, gaplek dan sejumlah komoditas hasil pertanian lainnya.

Saat ini, SBG merupakan produsen utama di tepung tapioka dan tepung beras, dan salah satu pemain utama di industri kelapa sawit dan produk turunan serta sederet produk yang digunakan sebagai bahan baku industri makanan, kertas, kembang gula, kimia, dan sebagainya.

Tahun 1995, perusahaan melakukan penawaran umum perdana saham-saham perusahaan kepada publik sehingga nama perusahaan menjadi PT Budi Acid Jaya Tbk, lalu kemudian diubah menjadi Budi Starch & Sweetener.

Wakil Presiden Direktur Budi Starch & Sweetener Sudarmo Tasmin menargetkan pertumbuhan pendapatan perseroan dipatok sebesar 10% dari tahun lalu. Salah satu pendorongnya adalah dengan mulai membaiknya pasokan singkong yang merupakan bahan dasar produksi tepung tapioka.

Selain itu, diprediksi akan terjadi kenaikan harga jual yang juga akan mendorong pendapatan tumbuh. "Kemungkinan ada pertumbuhan 10% karena di semester kedua singkong akan membaik jadi masih ada harapan pertumbuhan dan harga jual akan lebih baik," kata Sudarmo di Hotel Gran Melia, Jakarta, Jumat (21/6/2019).

Tahun ini perusahaan memperoleh penambahan kapasiitas produksi untuk produk tapioka dari perusahaan yang baru diakuisisi tahun lalu. Penambahan kapasitas produksi 200 ton/ hari ini menjadikan kapasitas terpasang pabriknya menjadi 885.000 ton/tahun.
 
Sementara itu, tingkat utilisasi dari pabrik ini bergantung pada ketersediaan bahan baku, jika bahan baku melimpah maka utilisasinya bisa mencapai 70% namun jika supply bahan baku melambat, maka utilisasi pabrik bisa turun menjadi hanya 50%.

Menurut dia, produsen tepung Rose Brand ini masih bergantung pada supply singkong dari petani hingga 97%-98% dari total kebutuhan, hanya 2%-3% saja yang dapat dipenuhi dari internal.

Adapun tahun ini anggaran perusahaan untuk belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp 100 miliar yang akan digunakan untuk keperluan maintenance rutin dan sebagian kecil untuk penambahan mesin di pabrik yang baru diakuisisi. (tas)
Terpopuler
    spinner loading
Terkait
Baca Juga
Features
    spinner loading