Ringgit Sudah 'Kalem', Harga CPO Cetak Apresiasi

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
21 June 2019 13:33
Ringgit Sudah 'Kalem', Harga CPO Cetak Apresiasi
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) berhasil mencetak apresiasi pasca ambruk sebesar 1,12% pada perdagangan kemarin (20/6/2019).

Pada perdagangan hari Jumat (21/6/2019) pukul 12:50 WIB, harga CPO acuan kontrak pengiriman bulan September di Bursa Malaysia Derivatives Exchange (BMDEX) membukukan penguatan sebesar 0,59% ke level MYR 2.035/ton. Namun, jika dihitung sejak awal tahun 2019, harga CPO masih tercatat melemah 4,05%.

Membuncahnya optimisme bahwa AS-China akan mampu meneken kesepakatan dagang sukses mengerek naik harga CPO. Optimisme ini mulai merebak sejak hari Rabu (19/6/2019) pasca Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa rencana pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di gelaran KTT G20 pada akhir bulan ini di Jepang akan terealisasi.


"Sudah melakukan pembicaraan yang sangat baik melalui telepon dengan Presiden Xi dari China. Kami akan bertemu pekan depan di KTT G20. Tim kami akan memulai pembicaraan sebelum pertemuan tersebut," cuit Trump di Twitter.

Semakin mendekati waktu pertemuan, nada positif terus disuarakan oleh kedua negara. Dari pihak AS, Trump menyuarakan keyakinan bahwa pihaknya akan mampu meneken kesepakatan dagang dengan China.

"Saya rasa pertemuan nanti (dengan Presiden Xi) akan berjalan dengan sangat baik. Tim kami akan memulai pembicaraan. China ingin sebuah kesepakatan, demikian pula AS. Namun kesepakatan itu harus menguntungkan bagi semuanya," tutur Trump, mengutip Reuters.

Sementara dari pihak China, Gao Feng selaku Juru Bicara Kementerian Perdagangan China mengatakan bahwa dirinya optimistis kedua negara bisa menemukan solusi untuk mengakhiri perang dagang yang sudah bergejolak begitu lama.

"Tim dari kedua negara akan melakukan komunikasi, merujuk kepada instruksi dari para kepala negara. Kami berharap AS akan menciptakan kondisi dan atmosfer yang memadai untuk memecahkan masalah melalui dialog," papar Gao, dilansir dari Reuters.

"Kedua pihak memiliki kepentingan yang sama, saya yakin dengan menyelesaikan hal-hal yang menjadi perhatian bersama maka kedua negara akan dapat menemukan solusi dengan cara yang sepatutnya," lanjutnya.

Ketika dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia bisa meneken kesepakatan dagang, aktivitas industri di seluruh dunia akan menggeliat. Sebagai informasi, minyak sawit banyak dipakai di industri makanan, minuman, kosmetik, serta farmasi.

Selain itu, sentimen positif bagi harga CPO datang dari pergerekan mata uang Malaysia yakni ringgit yang sudah 'kalem'. Pada perdagangan kemarin, harga CPO anjlok hingga 1% lebih seiring dengan apresiasi ringgit yang mencapai 0,62%.

Pada siang hari ini, ringgit tercatat melemah 0,1% di pasar spot ke level MYR 4,15/dolar AS.

Kala ringgit menguat, harga CPO yang diekspor Malaysia akan menjadi lebih mahal sehingga berpotensi menurunkan permintaan. Pada akhirnya, harga akan terdorong turun. Sebaliknya, ketika ringgit melemah, harga CPO yang diekspor Malaysia akan menjadi lebih murah sehingga berpotensi mendongkrak permintaan. Pada akhirnya, harga akan terkerek naik.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading