Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Bisa Sentuh US$100/Barel

Market - Prima Wirayani, CNBC Indonesia
14 June 2019 - 07:03
Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Bisa Sentuh US$100/Barel Foto: Infografis/10 Kkks Utama Produksi Minyak/Edward Ricardo
Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan terhadap dua kapal tanker di Teluk Oman, Kamis (13/6/2019), dapat membuat harga minyak mendadak naik tajam.

Namun, para analis juga memperingatkan bahwa perselisihan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang belum jelas ujungnya yang dikombinasikan dengan ketegangan di Timur Tengah bisa membuat harga minyak Brent bergerak di kisaran lebar US$50 hingga US$100 per barel.

Perang dagang dikhawatirkan dapat melemahkan permintaan energi akibat laju pertumbuhan ekonomi yang melambat.


Setelah anjlok hingga 4% akibat tingginya pasokan minyak AS pada Rabu, harga minyak melesat hingga 2% sehari setelahnya menyusul laporan serangan terhadap dua kapal tanker di Teluk Oman di dekat garis pantai Iran.


Tanker minyak Front Altair dan Kokuka Courageous telah mengalami kerusakan akibat kebakaran hebat dan krunya telah dievakuasi. Kokuka Courageous, sebuah kapal tanker kimia yang dimuat di Arab Saudi dan sedang dalam perjalanan ke Singapura, terbakar pada saat yang sama dengan tanker Front Altair sebelum jam 6:00 pagi waktu setempat.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan Iran ada di belakang serangan kapal tanker tersebut.

Serangan itu adalah yang kedua yang melibatkan kapal pengangkut minyak dalam waktu sebulan terakhir di dekat Selat Hormuz yang merupakan jalur pengiriman minyak tersibuk di dunia, dilansir dari CNBC International.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 2,2% ke US$52,22 per barel pada Kamis sementara Brent juga melompat 2,2% ke US$61,31 per barel.

Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Bisa Sentuh US$100/BarelIlustrasi kapal tanker. ( Government Flying Service/Handout via REUTERS)

"Anda berada di kisaran harga US$60 atau US$80. Jika ini semua tentang perang dagang dan ekonomi mandek, harga minyak akan menuju US$60," kata Helima Croft, kepala strategi komoditas global di RBC, dilansir dari CNBC International.

Ia mengatakan gesekan geopolitik dapat membuat harga minyak Brent melejit hingga US$80 terutama jika kekhawatiran terkait perang dagang mereda.

"Saya tidak mengatakan kita tengah masuk jebakan, namun kita tengah menuju ke sana," kata John Kilduff, partner di Again Capital. Ia mengatakan harga minyak menuju US$50 sebelum kabar serangan itu beredar.



Bank of America Merrill Lynch bahkan memperkirakan jika situasi di Timur Tengah memanas dan perang dagang mereda, harga minyak mentah Brent bisa menyentuh hingga US$100 per barel.

Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya berencana bertemu Presiden China Xi Jinping pada pertemuan G20 di Jepang akhir bulan nanti. Bila ada tanda-tanda perjanjian dagang kedua negara akan tercapai, sentimen tersebut dapat menjadi pendorong harga minyak naik lagi, kata Croft.


Simak video pernyataan Wamen ESDM mengenai strategi tekan defisit migas berikut ini.

[Gambas:Video CNBC]

(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading