Sedih.. Semester 1 Hampir Usai, IHSG Kedua dari Bawah di Asia

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
12 June 2019 - 13:51
Suramnya Prospek Rupiah Buat Pasar Saham Ditinggalkan Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Suramnya Prospek Rupiah Buat Pasar Saham Ditinggalkan

Selain itu, suramnya prospek rupiah ikut membuat bursa saham tanah air tak mampu menyaingi kinerja bursa saham negara-negara tetangga. Suramnya prospek rupiah datang seiring dengan defisit transaksi berjalan/Current Account Deficit (CAD) yang kemungkinan masih akan dalam pada 2019.

Bank Indonesia (BI) mencatat, CAD periode kuartal I-2019 adalah US$ 7 miliar, atau setara dengan 2,6% dari PDB, sudah jauh lebih dalam dari defisit periode yang sama tahun lalu (kuartal I-2018) yang hanya senilai US$ 5,19 miliar atau 2,01% dari PDB.

Jika CAD pada awal tahun saja sudah lebih dalam, ada kemungkinan bahwa CAD untuk keseluruhan pada 2019 juga akan lebih dalam dari tahun 2018 yang sebesar 2,98% dari PDB.


Apalagi, neraca dagang barang (yang merupakan komponen dari transaksi berjalan) membukukan defisit senilai US$ 2,5 miliar pada April 2019. Berdasarkan data Refinitiv, defisit pada April 2019 merupakan yang terparah atau terdalam sepanjang sejarah Indonesia. Sebelumnya, defisit paling dalam tercatat senilai US$ 2,3 miliar dan terjadi pada Juli 2013.

Jika berbicara mengenai rupiah, transaksi berjalan merupakan hal yang sangat penting lantaran menggambarkan pasokan devisa yang tidak mudah berubah (dari aktivitas ekspor-impor barang dan jasa). Hal ini berbeda dengan pos transaksi finansial yang bisa cepat berubah karena datang dari aliran modal portfolio atau yang biasa disebut sebagai hot money.

Kala rupiah melemah, investor asing berpotensi menanggung yang namanya kerugian kurs. Akibatnya, aksi jual mereka lakukan di pasar saham tanah air. Tak tanggung-tanggung, sepanjang tahun ini investor asing sempat keluar selama 16 hari beruntun dari pasar saham Indonesia (pasar reguler), yakni pada periode 3 Mei-24 Mei. Jika dihitung, nilai jual bersih investor asing pada periode tersebut adalah senilai Rp 10,9 triliun.


Jika dilihat dari kacamata ekonomi, pelemahan rupiah akan berdampak negatif bagi Indonesia lantaran barang-barang impor menjadi kian mahal. Investor (domestik dan asing) yang ingin menanamkan dananya di sektor riil juga bisa jadi dibuat berpikir 2 kali sebelum masuk ke tanah air. Ujung-ujungnya, apa lagi akibatnya kalau bukan pertumbuhan ekonomi akan menjadi semakin lemah.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading