Rating S&P Naik, Ini Fakta Indonesia Rentan Ditekan Asing

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
06 June 2019 15:21
Terus membaiknya peringkat surat utang Indonesia membuat besarnya kepemilikan investor asing di pasar modal tak menjadi masalah.
Jakarta, CNBC Indonesia - Kabar mengejutkan datang menyelimuti pasar keuangan dunia di tengah-tengah libur panjang yang dinikmati oleh pelaku pasar keuangan Indonesia.

Melalui publikasi Global Economic Prospects edisi Juni 2019 yang dirilis Selasa (4/6/2019) malam waktu setempat atau Rabu (5/6/2019) dini hari waktu Indonesia, Bank Dunia (World Bank) memutuskan untuk memangkas proyeksinya atas pertumbuhan ekonomi global.

Lembaga yang berbasis di Washington, Amerika Serikat (AS) tersebut kini memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) global hanya akan tumbuh sebesar 2,6% pada tahun ini, dari yang sebelumnya 2,9% pada proyeksi yang dibuat bulan Januari.


Melambatnya laju pertumbuhan ekonomi global tersebut disebabkan oleh lesunya arus perdagangan internasional. Dalam publikasinya, Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan perdagangan global menjadi hanya 2,6%, dari yang sebelumnya 3,6%. Jika proyeksi tersebut terealisasi, maka akan menjadi yang terlemah dalam satu dekade terakhir atau sejak krisis keuangan global.

Namun yang melegakan, ternyata proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tak diutak-atik oleh Bank Dunia. Memang tak dikerek naik, namun juga tak dikerek turun. Hal ini bisa dibilang membanggakan lantaran negara-negara tetangga diganjar pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi oleh Bank Dunia.


Namun, Bank Dunia memberikan catatan bagi Indonesia. Bank Dunia menyebut bahwa perekonomian negara-negara kawasan Asia Timur & Pasifik rentan terhadap risiko-risiko yang datang dari perubahan signifikan di pasar keuangan global.

"Banyak negara memiliki berbagai macam sumber kerentanan, termasuk tingkat utang yang tinggi (China, Laos, Malaysia, Mongolia, Vietnam), defisit fiskal yang besar (Kamboja, Laos, Mongolia, Vietnam), atau ketergantungan yang besar terhadap aliran modal (asing) yang bergejolak (Kamboja, Indonesia)," tulis Bank Dunia dalam publikasinya.

"Kerentanan di beberapa negara kawasan Asia Timur & Pasifik dapat memperparah dampak dari tekanan eksternal, seperti berhentinya aliran modal (asing) atau kenaikan biaya pinjaman," lanjut Bank Dunia.
Memang Bergantung Investor Asing
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading