China Mau Turunkan Harga Listrik, Batu Bara Terancam?

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
29 May 2019 11:09
Harga batu bara terus mengarah ke bawah seiring dengan rencana pemerintah China untuk menurunkan harga batu bara acuan.
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara terus mengarah ke bawah seiring dengan rencana pemerintah China untuk menurunkan harga batu bara acuan demi menekan ongkos listrik industri dan komersial.

Pada perdagangan Selasa kemarin (28/5/2019), harga batu bara Newcastle kontrak pengiriman Mei di bursa Intercontinental Exchange (ICE) ditutup melemah 0,42% ke posisi US$ 83,3/metrik ton.

Sehari sebelumnya, harga batu bara stagnan alias tidak bergerak di posisi US$ 83,65/metrik ton.





Pemerintah China dikabarkan tengah mencari jalan untuk menurunkan harga batu bara acuan domestik menjadi di bawah CNY 600/metrik ton (US$ 87/metrik ton), berdasarkan keterangan sumber yang mengetahui masalah tersebut, mengutip Bloomberg.

National Development & Reform Commission (NDRC) membuat proposal tersebut setelah enam pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) utama di China meminta bantuan kepada pemerintah untuk mengurangi biaya bahan baku demi menurunkan harga listrik untuk keperluan industri dan komersial sebesar 10% tahun ini.

Kabar ini menjadi pertanda bahwa PLTU di China sedang berada di dalam tekanan dari biaya bahan baku yang tinggi dan rencana pemerintah untuk memangkas ongkos listrik.

China juga telah berkomitmen untuk semakin banyak menggunakan energi bersih demi menyediakan udara yang bebas polusi bagi warganya.

Bahkan pada bulan April 2019, tenaga listrik yang dibangkitkan oleh PLTU turun 0,2% YoY menjadi tinggal 389 miliar kWh (kilowatt hour). Ini merupakan kontraksi output PLTU yang pertama sejak akhir tahun 2017.


Pada periode yang sama, output listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) melonjak hingga 13% YoY menjadi 10,4 miliar kWh, sementara dari pembangkit listrik tenaga angin (PLTB) naik 1% menjadi 34,3 miliar kWh.

Tampaknya pemerintah China ingin mengundang dampak perang dagang pada industri-industri manufaktur, yang notebene menjadi penopang ekonomi Negeri Tirai Bambu. Bagaimana tidak, akibat perang dagang jilid I yang berlangsung tahun 2018 saja, pertumbuhan ekonomi China sudah melambat ke level 6,6% yang merupakan terendah sejak 1990.

Kala ekonomi melambat, maka permintaan energi juga sulit untuk tumbuh, atau bahkan berkurang.

Terlebih sekarang perang dagang jilid II sudah resmi dimulai setelah AS dan China sama-sama mengumumkan kenaikan tarif sebesar 25%, dari yang semula 10%.

Tentu saja itu bukan berita baik untuk pasar batu bara impor. Pasalnya harga batu bara domestik yang kian murah di China akan ikut menekan harga batu bara impor agar dapat kompetitif.

Bahkan langkah tersebut dilakukan saat pemerintah China masih memberlakukan pembatasan kuota impor batu bara. Sudah sejak tahun 2018 pemerintah China membatasi kuota impor untuk membantu industri batu bara lokal.

Alhasil sepanjang 2018, impor batu bara China hanya sebesar 280,8 juta ton naik tipis dari 271,1 juta ton pada 2017. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibanding impor pada tahun 2013 yang mencapai 327,2 juta ton.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(taa/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading