The Fed Belum Naikkan Suku Bunga, Yen Kembali Tekuk Dolar AS

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
23 May 2019 08:38
The Fed Belum Naikkan Suku Bunga, Yen Kembali Tekuk Dolar AS
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang yen Jepang kembali menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) setelah rilis notula rapat kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed, pada Kamis (23/5/19) dini hari tadi.

Yen akhirnya kembali berjaya setelah 6 hari perdagangan tanpa menguat. Pada pukul 7:50 WIB, Kamis ini, yen diperdagangkan di kisaran 110,17/US$, melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu kemarin yang berakhir di level 110,34/US$.

Pasar forex dibuka selama 24 jam, dan perdagangan sesi AS menjadi penutup pasar forex sehingga di Indonesia satu hari perdagangan akan berakhir pada pukul 05:00 WIB.


Rilis notula The Fed dini hari tadi menunjukkan bank sentral AS tersebut belum berniat untuk menaikkan suku bunga acuan Fed Funds Rate (FFR) meski kondisi ekonomi terus membaik.

Hal tersebut memberikan tekanan bagi dolar AS di mana pasar sebelumnya memperkirakan The Fed kemungkinan akan menaikkan suku bunga di tahun ini setelah rilis data produk domestik bruto (PDB) AS kuartal-I yang jauh lebih tinggi dari prediksi.




Namun ternyata mayoritas anggota pembuat kebijakan atau Federal Open Market Committee (FOMC) masih akan bersabar dalam mengubah kebijakan moneter.

Suku bunga acuan FFR yakni di level 2,25% - 2,50% tidak akan berubah dalam beberapa waktu ke depan meski aktivitas ekonomi AS meningkat, pasar tenaga kerja kuat, dan inflasi juga diprediksi mendekati target 2,0%. 

Dari Jepang, pada Senin lalu (20/5/19), rilis data ekonomi mencatat angka PDB yang juga lebih bagus dari prediksi, meski tidak setinggi di AS.




Kantor Kabinet Jepang melaporkan pada kuartal-I 2019 pertumbuhan ekonomi yang diukur dari PDB tumbuh 0,5%, lebih tinggi dari prediksi kontraksi 0,1% di Forex Factory.

Data ini setidaknya memberikan angin segar di tengah perang dagang AS - China yang memicu pelambatan ekonomi global. Hubungan dagang kedua negara ini semakin memanas, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan belum ada rencana terbang ke Beijing untuk melakukan negosiasi dagang.

Sementara laporan dari South China Morning Post mengatakan pemerintah China sedang mempertimbangkan ulang semua hubungan ekonomi dengan AS setelah Washington membatasi bisnis raksasa telekomunikasi Huawei, melansir CNBC International.

Semakin panasnya hubungan kedua negara membuat bursa saham Asia kembali melemah, dan memberikan keuntungan bagi yen yang dipandang sebagai safe haven. Jika bursa saham terus di zona merah, yang merembet ke Eropa dan AS, yen kemungkinan akan terus menguat pada hari ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading