Blue Bird Siapkan Capex Rp 1,5 T, dari Mana & Untuk Apa Saja?

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
22 May 2019 - 15:15
Blue Bird Siapkan Capex Rp 1,5 T, dari Mana & Untuk Apa Saja?
Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten transportasi PT Blue Bird Tbk (BIRD) mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 1,5 triliun pada tahun ini, meningkat dari tahun sebelumnya Rp 1,2 triliun.

Belanja modal atau capex (capital expenditure) tersebut akan dipakai sebagian besar untuk menambah armada baru, peremajaan kendaraan dan pengembangan aplikasi. Hingga triwulan pertama tahun ini, emiten dengan kode saham BIRD itu telah menyerap belanja modal Rp 350 miliar.

Direktur Keuangan Blue Bird Sandy Permadi mengatakan belanja modal bersumber dari dana kas perusahaan dan pinjaman bank. Ia menjelaskan, pada tahun ini, BIRD akan menganggarkan investasi di bidang pengembangan aplikasi taksi dengan proporsi 10-15% dari total belanja modal tahun ini.


"Hingga kuartal I-2019 belanja modal untuk pembelian armada baru, peremajaan kendaraan di semua segmen bisnis mencapai Rp 350 miliar," kata Sandy Permadi usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Rabu (22/5/2019) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta.

Pada tahun ini, perusahaan transportasi yang identik dengan logo burung biru tersebut melebarkan sayap ke bisnisnya shuttle bus antarkota antarprovinsi (AKAP) atau bisnis non-taksi dengan mengakuisisi bisnis shuttle PT Citra Tiara Global dengan merek Cititrans melalui anak usahanya, PT Trans Antar Nusabird, senilai Rp115 miliar.

Dalam kesempatan yang sama, terkait dengan ekspansi mobil listrik, Direktur Blue Bird, Adrianto Djokosoetono mengatakan pihaknya juga sedang menjajaki kerja sama dengan Agen Pemegang Merek (APM) di luar merek BYD dan Tesla sebagai produsen mobil listrik dalam rangka penambahan armada taksi listrik.

Tahun ini, BIRD menegaskan belum berencana menambah armada taksi listrik. Tapi pada tahun depan, Andre, sapaan akrabnya, menyebutkan tidak menutup kemungkinan perseroan berencana menambah armada dari saat ini berjumlah 30 unit, dengan komposisi lima di antaranya dari pabrikan Tesla.

"Bisa jadi menambah armada taksi listrik, karena target jangka panjangnya 2.000 unit kendaraan listrik," ujarnya.

Saat ini, Blue Bird masih terus mengoptimalisasi layanan taksi listrik sebelum akan mengembangkan dengan jumlah yang lebih masif. Karena itu, saat ini, kontribusi kendaraan listrik masih kecil dari layanan taksi konvensional dengan bahan bakar minyak (BBM).

"Kontribusinya masih kecil 30 unit berbanding 30.000 unit, saat pembelajaran dari 30 unit ini selesai, dari situ kita bisa buat impact dengan skala yang lebih besar sehingga bukan hanya hemat BBM, tapi juga menghilangkan emisi kendaraan kita," tandas Andre.

Sebagai gambaran, sepanjang tahun lalu, BIRD membukukan laba bersih sebesar Rp 457,30 miliar, naik 7,63% dari perolehan laba di tahun sebelumnya sebesar Rp 424,86 miliar.

Tahun lalu perseroan mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp 4,21 triliun naik tipis dari perolehan pendapatan di tahun sebelumnya Rp 4,20 triliun.

Adapun, hingga 31 Maret 2019, BIRD mencatatkan pendapatan Rp 976,75 miliar, dari tahun sebelumnya Rp 973,37 miliar. Laba usaha tercatat sebesar Rp 108,47 miliar, turun dari tahun sebelumnya Rp 119,27 miliar. Adapun, laba bersih tercatat sebesar Rp 88,75 miliar, turun dari tahun sebelumnya Rp 98,91 miliar.

Simak ulasan rencana BIRD di bisnis taksi listrik.


(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading