Q1 Harga Batu Bara Tak Bagus, Tapi 5 Emiten Ini Raup Untung

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
09 May 2019 19:46
Q1 Harga Batu Bara Tak Bagus, Tapi 5 Emiten Ini Raup Untung
Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten-emiten tambang batu bara mengalami masa sulit sepanjang kuartal I-2019. Bagaimana tidak, harga batu bara global berada dalam tekanan yang menggerus keuntungan perusahaan, khususnya perusahaan yang penjualannya berorientasi pada ekspor.

Namun nyatanya tidak semua emiten pasrah begitu saja pada keadaan. Beberapa perusahaan justru bisa membukukan pertumbuhan laba bersih yang gemilang pada kuartal I-2019.

Dari 18 emiten tambang batu bara yang telah merilis laporan keuangan kuartal I-2019, enam di antaranya berhasil mencatat pertumbuhan laba bersih yang positif.




Kali ini yang menjadi primadona ditinjau dari pertumbuhan laba bersih adalah PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS).

Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar US$ 0,9 juta pada kuartal I-2019, meningkat hingga 800% dibanding kuartal I-2018 yang hanya US$ 0,1 juta.

Kunci dari kinerja BOSS yang cemerlang adalah peningkatan penjualan bersih (sales) dan efisiensi beban usaha.

Pasalnya, penjualan bersih perusahaan bisa tumbuh 39,6% secara year-on-year (YoY) di kuartal I-2019. Pada saat yang sama, marjin laba bersih (net profit margin/NPM) juga meningkat menjadi 14,1% dari yang sebesar 9,7% di kuartal I-2018.

PT Adaro Energy Tbk (ADRO) menyusul dengan dengan pertumbuhan laba bersih sebesar 60,6% menjadi US$ 74,2 juta di kuartal I-2019. Selain karena berhasil mencetak pertumbuhan penjualan sebesar 10% YoY, perusahaan juga mendapatkan keuntungan dari tambang batu bara Kestrel sebesar US$ 24,5 juta.

Alhasil meskipun marjin EBITDA perusahaan bertahan di 34%, namun NPM melesat jadi 14.1% dari yang semula 9,7%.

Peringkat ketiga kali ini berhasil dipegang oleh PT Petrosea Tbk (PTRO), dengan pertumbuhan laba bersih mencapai 55% YoY. Berbeda dengan dua perusahaan sebelumnya, Petrosea tidak melakukan jual beli batu bara atau hasil tambang lainnya.

Sebagian besar pendapatan Petrosea didapat dari kontrak jasa pertambangan (US$ 63,3 juta). Ada pula pendapatan yang berasal dari jasa konstruksi (US$ 20,3 juta) dan rekayasa/engineering (US$ 12,9 juta).

Kinerja perusahaan yang semakin baik lebih ditopang peningkatan penjualan dan efisiensi yang berhasil dilakukan pada saat yang sama. Total penjualan sepanjang kuartal I-2019 naik hingga 13,8% YoY. Sementara marjin EBITDA meningkat menjadi 21,9% dari yang semula 20,2%.



Meski demikian, mayoritas emiten tambang batu bara harus rela mengalami penurunan performa.

PT Resources Alam Indonesia Tbk (KKGI) merupakan emiten yang mengalami penurunan laba berih paling dalam, yaitu mencapai 300% YoY di kuartal I-2019. Penyebabnya adalah peningkatan penjualan yang tidak sebanding dengan beban usaha.

Sementara penjualan meningkat hingga 96% YoY, namun beban pokok penjualan dan beban operasi meroket masing-masing sebesar 188% YoY dan 72% YoY. Tak heran perusahaan malah mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 1,79 juta, dari yang sebelumnya masih untung US$ 0,89 juta.

Penurunan harga batu bara juga banyak mendalangi kasus serupa pada emiten sejenis. Rata-rata Harga Batu Bara Acuan (HBA) kuartal I-2019 tercatat sebesar US$ 91,59 atau turun hingga 7,82% YoY. Nilai HBA sendiri diperoleh rata-rata empat indeks harga batubara yang umum digunakan dalam perdagangan batubara dunia, yaitu Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5900.



Perlambatan ekonomi dunia dan pembatasan impor di China menjadi faktor utama yang menyebabkan penurunan harga batu bara. Hingga saat ini pun masih belum ada sentimen kuat yang dapat mengangkat harga batu panas ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA (taa/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading