Garap Energi Terbarukan, Adaro Alokasikan Capex Rp 9,26 T

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
30 April 2019 17:23
Garap Energi Terbarukan, Adaro Alokasikan Capex Rp 9,26 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten tambang batu bara, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) tahun ini mengalokasikan belanja modal sebesat US$ 450- US$ 650 juta atau senilai Rp 9,26 triliun. Belanja modal yang digelontorkan tahun ini memang lebih rendah dari tahun lalu sebesar US$ 750 juta - US$ 900 juta.

Chief Financial Officer Adaro Energy Lie Luckman mengatakan, sebagian besar belanja modal akan dialokasikan untuk pengembangan tambang batu bara Adaro MetCoal (AMC) dan peremajaan alat berat. Sumber pendanaan belanja modal dari kas internal perusahaan dan pinjaman bank. "Untuk pengembangan mining 2/3 dari total belanja modal," ungkap Lie Luckman di Raffles Jakarta, Selasa (30/4/2019).

Hadir dalam kesempatan yang sama, Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi Thohir mengaku optimistis, setelah pemilu penjualan batu bara Adaro bisa kembali pulih. Pria yang akrab disapa Boy Thohir itu meyakini komoditas batu bara saat ini adalah salah satu sumber energi yang paling murah dan efisien dibandingkan yang lainnya.

Hal itu, juga didukung oleh kondisi geografis indonesia sebagai negara penghasil batu bara dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih tinggi dari negara emerging lainnya di Asia Tenggara.


Pada tahun ini, emiten dengan kode saham ADRO ini menargetkan produksi batu bara meningkat menjadi 54-56 juta ton, dari tahun sebelumnya 54,04 juta ton. Boy meyakini, penjualan batu bara di kawasan Asia Tenggara, China, India tetap tumbuh.

"Saya yakin permintaan batu bara khsusunya di Asia Tenggara itu masih cukup kuat, kemarin (2018) terjadi kondisi kurang kondusif, tambang-tambang baru dan alat gak gampang, dari analisa kita ke depan ya masih challenging dan kita akan fokus bagaimana efisiensi," kata Boy Thohir.

Tahun lalu harga batu bara memang cukup tertekan, hal ini berimbas pada penurunan laba bersih Adaro di 2018 yang mencapai US$ 417 juta atau setara Rp 5,8 triliun. Laba tersebut turun 13,5% dibanding 2017 yang mencapai US$ 483 juta.

Dari sisi pendapatan, sebenarnya perusahaan mencatat kenaikan cukup banyak dari US$ 3,2 miliar di 2017 jadi US$ 3,6 miliar.

Namun, dari sisi beban juga tercatat kenaikan signifikan terutama untuk beban lain-lain. Pada 2017, beban lain-lain perusahaan hanya US$ 6 juta dan langsung meroket ke US$ 124 juta di 2018.

Menyiasati fluktuasi harga batu bara, Adaro juga telah mendiversifikasi usahanya. Perusahaan juga tengah menjajaki beberapa investasi di bidang energi baru terbarukan (EBT) yang akan dimulai dari panel surya.

Selain itu, Adaro juga tengah fokus menyelesaikan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Batang, Jawa Tengah dan Kalimantan Selatan.

"Kita belum mau melangkah lebih jauh karena memang biasanya kita agak konservatif, kalau sudah capable baru nanti kembangkan (komersial), saat ini memang fokusnya PLTU Batang dan Kalsel," tandasnya. (hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading