7 Tahun Merugi, Krakatau Steel Merana Karena Utang

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
09 April 2019 14:24
7 Tahun Merugi, Krakatau Steel Merana Karena Utang
Jakarta, CNBC Indonesia - Sepanjang tahun 2018, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) kembali mencatatkan kerugian senilai US$ 74,82 juta atau setara Rp 1,05 triliun (kurs Rp 14.000/US$). Ini berarti sudah sejak tahun 2012 perusahaan terus menerus menunjukkan rapor merah.

Pada dasarnya meski merugi 7 tahun, sejatinya KRAS mencatatkan kenaikan pendapatan sejak tahun 2016, bahkan di tahun 2018, total pendapatan naik hingga 20,05% year-on-year (YoY) menjadi US$ 1,74 miliar dari sebelumnya US$ 1,45 miliar.

Pertumbuhan tersebut merupakan prestasi yang cukup baik, karena di tahun 2017 dan 2016, total pendapatan KRAS hanya tumbuh masing-masing 7,76% YoY dan 1,73% YoY. Pertumbuhan pendapatan seiring dengan membaiknya harga baja dunia.

Pergerakan harga baja tipe 'Hot-Rolled Coil/HRC', dimana tipe baja menyumbang hampir 60% dari total baja yang dijual perusahaan, cenderung naik sejak 2016. Sehingga tentunya, perubahan harga baja HRC akan berpengaruh signifikan pada perolehan pendapatan KRAS.




Pergerakan harga baja HRC mencerminkan perolehan pendapatan KRAS. Bisa dilihat, harga baja HRC mulai terdongkrak sejak tahun 2016 dan naik signifikan di awal tahun 2018. Tentunya, inilah yang mendukung pertumbuhan pendapatan tahun lalu hingga 20,05% YoY.

Perusahaan harus pasrah dengan mencatatkan kerugian hingga US$ 320 juta. Kerugian terbesar setidaknya dalam 8 tahun terakhir.

Di lain pihak, kerugian yang dicatatkan oleh KRAS selama 7 tahun berturut-turut besar kemungkinan bukan karena tingginya beban usaha. Pasalnya dalam 8 tahun belakangan perusahaan masih mengantongi laba kotor.

Pengecualian untuk tahun 2015 karena harga baja anjlok sehingga pendapatan tidak mampu untuk menutupi beban usaha.

Nah, kerugian mulai dicatatkan di tahun 2012 hingga saat ini karena pos-pos pembiayaan lainnya, seperti beban penjualan, beban administrasi, dan beban bunga KRAS membengkak. Terlebih lagi, anak usaha juga terus mencatatkan kerugian.

Pada 2018, total pendapatan KRAS tumbuh, dan berhasil mengantongi laba kotor sebesar US$ 158,8 juta, mirip dengan perolehan tahun 2011. Bedanya, jika di tahun 2011 perusahaan masih untung, tahun 2018 perusahaan rugi.

Momok kerugian di tahun 2018 adalah tingginya beban keuangan yang tercatat hingga US$ 112,33 juta. Padahal tahun 2011, beban keuangan hanya di kisaran US$ 40,62 juta. Ini berarti selama 8 tahun beban keuangan tumbuh lebih dari 2 kali lipat (223,52% YoY).


Beban keuangan KRAS meroket karena jumlah utang, terutama utang jangka pendek yang terus bertambah. Pada tahun 2018, total hutang jangka pendek naik 17,38% YoY menjadi US$ 1,59 miliar. Jika dibandingkan dengan tahun 2011, maka naik 57,51%.

TIM RISET CNBC INDONESIA (dwa/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading