Saham Disuspensi, Bumi Resources Minerals Temui BEI

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
02 April 2019 19:20
Saham Disuspensi, Bumi Resources Minerals Temui BEI
Jakarta, CNBC Indonesia - Manajemen emiten tambang mineral, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), menemui Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa ini (2/4/2019) untuk mendapat kejelasan informasi terkait penghentian sementara perdagangan (suspensi) saham perusahaan pada perdagangan hari ini.

Suspensi dilakukan setelah otoritas bursa melihat bahwa perseroan tidak membukukan pendapatan usaha sejak 1 Oktober 2018 sampai 31 Desember 2018.

"Dengan mempertimbangkan kondisi perseroan tersebut, BEI memutuskan untuk melakukan penghentian sementara efek BRMS di seluruh pasar, mulai 2 April, hingga pengumuman BEI lebih lanjut," kata Adi Pratomo Aryanto, Kadiv Penilaian Perusahaan I, dalam pengumuman BEI, Selasa (2/4/2019).


Manajemen BMRS menjelaskan, selama 9 bulan pertama di tahun 2018, perusahaan masih mencatatkan pendapatan penjualan, sebagaimana yang disampaikan dalam laporan keuangan tahunan 2018.


Namun, pada triwulan keempat memang tidak mencatatkan penjualan karena adanya perjanjian layanan yang ditandatangani pada periode tersebut, sehingga pendapatan penjualan akan tercatat pada triwulan pertama tahun ini.

"Kami telah menjelaskan kepada BEI bahwa ada perjanjian layanan yang telah ditandatangani pada kuartal ke-4 tahun 2018. Akibatnya, pendapatan penjualan tercatat dalam laporan keuangan triwulan pertama tahun 2019," kata Herwin W. Hidayat
Direktur dan Investor Relations Bumi Resources Minerals, dalam siaran pers, Selasa (2/4/2019).

Herwin menegaskan, pihaknya siap mematuhi peraturan yang berlaku untuk segera mungkin bisa memenuhi persyaratan agar perdagangan saham BMRS kembali dibuka.

"Kami akan terus berkoordinasi dengan BEI dan menantikan pencabutan suspensi saham BMRS secepatnya," kata dia.

Mengacu laporan keuangan, sepanjang Januari-Desember 2018, kinerja anak usaha tambang mineral dari PT Bumi Resources Tbk (BUMI) ini belum positif. Pendapatan perusahaan turun menjadi US$ 1,18 juta atau setara dengan Rp 16,7 miliar (asumsi kurs Rp 14.200/US$), dari tahun sebelumnya US$ 5 juta.

Pendapatan perseroan tersebut hanya diperoleh dari satu bisnis yakni jasa penasehat pertambangan yang dilakukan perusahaan terhadap Bellridge Holdings Limited (Bellridge).

BRMS menderita rugi usaha US$ 4,85 juta dari sebelumnya rugi usaha US$ 4,94 juta. Dengan demikian, rugi bersih BRMS membengkak menjadi US$ 103,50 juta tahun lalu dari rugi bersih tahun 2017 sebesar US$ 232,99 juta. Kerugian juga diperoleh dari rugi pelepasan inventasi sebesar US$ 92,44 juta.

Dari sisi komposisi saham, saham Seri A BRMS dipegang oleh BUMI 35,73% dan publik 5,30%, sementara saham Seri B dipegang Fountain City Investment Ltd 8,02%, Wexler Capital Pte Ltd 13,23%, 1st Financial Company limited 22,86%, dan investor publik 14,86%.

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading