Kisah Hostile Take Over di Tiga Pilar & Hasil Investigasi EY

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
27 March 2019 11:11
Kisah Hostile Take Over di Tiga Pilar & Hasil Investigasi EY
Jakarta, CNBC Indonesia - Kisruh di tubuh manajemen PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) atau TPS Food ramai lagi setelah sempat terangkat kepermukaan sejak pertengahan tahun lalu. Pasar lagi-lagi mencermati AISA pascakeluarnya laporan Hasil Investigasi Berbasis Fakta dari PT Ernst & Young Indonesia (EY).

Sebetulnya bagaimana awal mula persoalan ini?

Awal cerita kisruh ini bermula dari amburadulnya bisnis beras yang dikelola anak usaha perseroan PT Indo Beras Unggul karena terbukti mengoplos.


Pascakasus tersebut, kesulitan keuangan mulai mendera TPS Food yang dimulai dari kesulitan bayar bunga dan pokok obligasi yang berujung pada gagal bayar.


Bara dalam tumbuh manajemen TPS Food pun mulai panas dan akhirnya terangkat ke permukaan. Puncak perseteruan terjadi pada saat pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 27 Juli 2018.

Saat RUPS berlangsung, tiba-tiba Direktur Utama AISA Stefanus Joko Mogoginta keluar dan teriak-teriak mencari wartawan.

Joko merasa pemegang saham dalam hal ini KKR berniat mengambilalih perusahaan yang sudah dibangunnya.

"Pak Anton [Apriyantono, Presiden Komisaris AISA) tadi sudah menjelaskan ditekan sama Pak Jaka Prasetya (Komisaris TPS Food) dari KKR pada tanggal 25 untuk membuat suatu kesepakatan. Ini skenario sangat-sangat jelas, jahat dan busuk. Ditekan tadi mau digugat kalau tanda tangan laporan keuangan [2017]," kata Joko pada waktu itu.

"Ini jelas hostile take over (pengambilalihan secara paksa). Kalau laporan keuangan ditolak sama komisaris, direksi akan diganti. Saya membangun ini 26 tahun, ini hostile take over," katanya lagi.

Foto: Joko Mogoginta/ Monica Wareza

Cerita tak berhenti sampai di sana, pada 22 Oktober 2018 dilaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUSPLB) yang resmi menunjuk jajaran direksi dan komisaris baru.

Dalam RUPSLB tersebut juga diputuskan, menggantikan jajaran direksi lama yang dipimpin oleh Stefanus Joko Mogoginta. Selain itu, RUPSLB tersebut resmi dilaksanakan setelah 56% suara dari pemegang saham hadir.

Rapat ini juga menyetujui pengangkatan Hengky Koestanto sebagai direktur utama perseroan yang baru.

"Keputusan mengenai tindak lanjut RUPS Tahunan pada 27 Juli sudah memberikan persetujuan bahwa direksi yang lama sudah diberhentikan. Pemegang saham sudah mengonfirmasi apa yang terjadi pada saat itu," kata Michael H Hadylaya Corporate Secretary AISA setelah RUPSLB.

Nah, hasil RUPSLB ini juga yang memberikan mandat kepada manajemen baru untuk melakukan audit investigasi terhadap beberapa akun dalam laporan keuangan TPS Food.

Manajemen baru menugaskan, EY melakukan penelaahan atas beberapa akun dalam laporan keuangan. Inilah awal mula EY mendapat penugasan dan menyampaikan laporan hasil investigasinya.

Hasil investigasi terhadap laporan keuangan 2017 TPS Food mendapati dugaan adanya penggelembungan (overstatement) senilai Rp 4 triliun oleh manajemen lama pada beberapa pos akuntansi.

Hasil investigasi EY tersebut sudah dilaporkan manajemen baru TPS Food ke Bursa Efek Indonesia kemarin, Selasa (27/03/2019).

Simak ulasan soal kisruh Tiga Pilar yang belum berakhir.
[Gambas:Video CNBC]

(hps/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading