Fakta Menyakitkan: Komoditas Ekspor RI Harganya Terjun Bebas

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
26 March 2019 - 16:34
Fakta Menyakitkan: Komoditas Ekspor RI Harganya Terjun Bebas
Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh Bank Indonesia (BI) dalam mengambil kebijakan moneter adalah harga komoditas-komoditas ekspor Indonesia.

Pasalnya, beberapa komoditas utama asal Indonesia menyumbang porsi yang cukup besar pada kinerja ekspor.

Tengok saja nilai ekspor non-migas sepanjang tahun 2018 yang mana lebih dari 11% disumbang oleh batu bara. Adapun minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) juga memberikan andil 12% terhadap ekspor non-migas. Selain itu, beberapa komoditas utama lain seperti karet, nikel, timah, kopi, dan tembaga yang juga turut andil terhadap ekspor.


Namun masalahnya, harga-harga komoditas tersebut kuat dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal. Keseimbangan fundamental (pasokan-permintaan) di pasar global akan sangat mempengaruhi harga komoditas terkait.

Maka secara tidak langsung, pengaruh faktor-faktor eksternal terhadap harga komoditas memiliki andil terhadap kinerja ekspor Indonesia.

Karena itu, dalam publikasi BI yang berjudul Tinjauan Kebijakan Moneter edisi Maret 2019, kondisi pasar komoditas global mendapat tempat tersendiri untuk dibahas.

Fakta Menyakitkan: Komoditas Ekspor RI Harganya Terjun BebasFoto: Indeks Harga Komoditas BI


Dalam analisisnya, BI menuliskan bahwa volume perdagangan dunia mengalami penurunan seiring dengan perlambatan ekonomi global.

Tak hanya itu, aksi saling lempar tarif impor antara Amerika Serikat (AS) dan China juga turut andil membuat arus perdagangan internasional menjadi terhambat. Tak ayal Volume perdagangan juga berkurang.

Aluminium



Berdasarkan penuturan BI, komoditas aluminium merupakan yang terkoreksi paling dalam sejak awal tahun hingga 1 Maret 2019 yaitu sebesar 11,2%.
Bila mengacu pada bursa London Metal Exchange, sejatinya harga aluminium tercatat naik sebesar 3,9% pada periode tersebut. Akan tetapi bila dibandingkan dengan awal tahun 2018, harga aluminium telah terpangkas 15,43%.
Kini aluminium diperdagangkan pada kisaran harga US$ 1.883/ton. Padahal pada tahun 2018, aluminium sempat dijual dengan harga US$ 2.537/ton.
Turunnya harga aluminium kuat dipengaruhi oleh aktivitas industri manufaktur yang lesu di sejumlah negara konsumen utama.
Di Jerman, Purcahasing Manager's Index (PMI) manufaktur periode Maret dibacakan pada posisi yang lebih rendah dibanding bulan sebelumnya, yaitu hanya 44,7. Parahnya, nilai tersebut merupakan yang paling rendah sejak Agustus 2012.
Senada, PMI manufaktur Jepang periode Maret juga dibacakan di angka 48,9 yang juga lebih rendah dibanding bulan sebelumnya
Sebagai informasi, nilai di bawah 50 berarti terjadi kontraksi pada aktivitas industri manufaktur, dan berlaku pula sebaliknya.
Rendahnya serapan aluminium di berbagai industri manufaktur membuat stok di pasar global meningkat. Keseimbangan fundamental pun menjadi timpang.

Kopi



Salah satu komoditas yang mengalami koreksi paling dalam sejak awal tahun 2019 adalah kopi. Berdasarkan data yang dikutip dari laporan BI, indeks harga kopi sudah terkoreksi sebesar 10,7% sejak awal tahun.

Sama halnya dengan tahun 2018, yang mana sepanjang tahun indeks harga kopi di pasar dunia amblas 15,4%.

Melihat harga kontrak kopi di bursa Intercontinental Exchange (ICE) Amerika Serikat (AS), sejak awal tahun 2019 hingga 1 Maret 2019, harga kopi jenis arabica memang sudah terkoreksi sebesar 4,53%. Harga kopi arabica di bursa tersebut kini (26/3/2019) dihargai 94,25 cent/lb, atau setara dengan 2,07 US$/kg.

Bahkan pada September 2018 lalu, harga kopi arabica menyentuh titik paling rendah sejak 13 tahun terakhir. Padahal pada November 2016, harga kopi arabica mencapai 193,6 cent/lb atau setara dengan US$ 4,25/kg.

Peningkatan produksi kopi di sejumlah negara seperti Brazil dan Negara Afrika lain menjadi salah satu penyebab harga kopi kian menipis. Selain itu, turunnya permintaan akibat perlambatan ekonomi global juga turut serta membuat pasar kebanjiran pasokan.

Minyak Sawit



Komoditas minyak sawit juga mengalami nasib yang hampir sama. Berdasarkan data dari BI, indeks harga CPO telah amblas 5,7% pada sepanjang periode 1 Januari-1 Maret 2019.

Berdasarkan harga kontrak yang diperdagangkan di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, harga CPO pada periode tersebut masih tercatat menguat 3,21%. namun memang bila dibandingkan dengan awal tahun 2018, harga CPO telah berkurang sebesar 14%. Kini, CPO diperdagangkan pada kisaran harga US$ 525/ton.

Lagi-lagi, peningkatan produksi dari Indonesia dan Malaysia selaku pemasok utama minyak sawit menjadi beban pada pergerakan harga komoditas tersebut. Ditambah lagi adanya pembatasan penggunaan minyak sawit berpotensi membuat permintaan global berkurang.

Batu Bara



Untungnya, indeks harga batu bara yang dicatat oleh BI masih bisa stabil dengan kenaikan sebesar 2,1%.

Bila melihat harga batu bara Newcastle yang sering dijadikan acuan harga batu bara dunia, nilainya sudah jatuh sekitar 4,06% sejak awal tahun. Sekarang ini batu bara Newcastle dijual pada kisaran harga US$ 93,55/ton.

Perlambatan ekonomi global memegang peranan. penting dalam menekan harga batu bara. Apalagi China sebagai konsumen batu bara utama dunia mengalami pertumbuhan ekonomi yang paling lambat sejak 1990 pada tahun 2018 silam. Sudah tentu permintaan energi dari China juga akan berkurang.

Akan tetapi, index harga batu bara Indonesia (Indonesia Coal Index/ICI) yang memiliki kalori 4.200 kcal/kg terus menguat sebesar 13,71%. Penyebabnya adalah pemerintah China yang menghambat impor batu bara asal Australia. Alhasil, batu bara Indonesia menjadi alternatif dan membuat permintaannya juga terangkat. 

Batu bara Indonesia memang seringkali dijadikan campuran dengan batu bara lokal China karena memiliki kandungan sulfur yang rendah.

Karet



Komoditas karet alam sedikit bernasib baik. Menurut BI, indeks harga karet sejak awal tahun 2019 masih menguat sebesar 9,2%.

Mengacu pada harga karet di bursa Tokyo Commodity Exchange, nilainya tercatat menguat 19,86% sejak awal tahun hingga 1 Maret 2019. Kini harga karet dijual pada kisaran harga JPY 184,8/kg. Akan tetapi bila dilihat sejak awal tahun 2018, harga karet telah amblas 10,6%.

Meningkatnya pasokan karet sintetis di China diduga kuat menjadi faktor yang memberi tarikan ke bawah pada harga karet alam. Apalagi pada akhir tahun 2018, harga minyak yang menjadi bahan baku produksi karet sintetis juga amblas. Membuat karet sintetis sangat kompetitif.

Kini anggota International Tripartite Rubber Council (ITRC) tengah mengupayakan pembatasan pasokan dengan mengurangi ekspor sebesar 240.000 ton yang akan mulai dilakukan pada April 2019.



TIM RISET CNBC INDONESIA



(taa/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading