Pasar Obligasi AS dan Pasar SUN Kompak Menguat

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
22 March 2019 21:20
Pasar Obligasi AS dan Pasar SUN Kompak Menguat
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) yaitu US Treasury, kembali menguat dan memicu inversi pada tiga pasang seri acuan, yaitu 2 tahun-5 tahun, 3 tahun-5 tahun, dan 3 bulan-10 tahun.  

Pada 2 tahun-5 tahun paling sering terjadi sejak Agustus, sedangkan pasangan tenor 3 tahun-5 tahun dan 3 bulan-10 tahun semakin mencerminkan adanya ketakutan investor terhadap prospek perekonomian Amerika Serikat.  

Inversi adalah kondisi lebih tingginya yield seri lebih pendek dibanding yield seri lebih panjang. 


Inversi tersebut membentuk kurva yield terbalik (inverted yield curve), yang menjadi cerminan investor yang lebih meminati US Treasury seri panjang dibanding yang pendek karena menilai akan terjadi kontraksi jangka pendek, sekaligus indikator adanya potensi tekanan ekonomi bahkan hingga krisis.  


Yield US Treasury Acuan 22 Mar 2019
SeriBenchmarkYield 21 Mar 2019 (%)Yield 22 Mar 2019 (%)Selisih (Inversi)Satuan Inversi
UST BILL 20193 Bulan2.4732.4633 bulan-5 tahun20.1
UST 20202 Tahun2.412.352 tahun-5 tahun8.8
UST 20213 Tahun2.3482.2743 tahun-5 tahun1.2
UST 20235 Tahun2.3432.2623 bulan-10 tahun1
UST 202810 Tahun2.5392.4532 tahun-10 tahun-10.3
Sumber: Refinitiv 


Negatifnya prospek perekonomian AS justru mendorong penguatan pasar obligasi di negara berkembang, termasuk Indonesia. 

Harga obligasi rupiah pemerintah masih naik pada perdagangan hari ini, menggenapi reli yang terjadi sejak 12 Maret setelah The Fed menyatakan nada kalem (dovish) terhadap prospek kebijakan moneter ke depannya seiring dengan pratanda kondisi ekonomi yang belum membaik. 

Sentimen dari The Fed kemarin malam masih berdampak pada perdagangan hari ini. Naiknya harga surat utang negara (SUN) itu seiring dengan apresiasi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara berkembang yang lain.  

Data Refinitiv menunjukkan menguatnya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menurunkan tingkat imbal hasilnya (yield).  

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder. Yield juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka. 

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. 

Keempat seri yang menjadi acuan itu adalah FR0063 bertenor 5 tahun, FR0064 bertenor 10 tahun, FR0065 bertenor 15 tahun, dan FR0075 bertenor 30 tahun. 

Seri acuan yang paling menguat adalah FR0077 yang bertenor 5 tahun dengan penurunan yield 4 basis poin (bps) menjadi 7,12%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

  
Yield Obligasi Negara Acuan 22 Mar 2019
SeriJatuh tempoYield 21 Mar 2019 (%)Yield 22 Mar 2019 (%)Selisih (basis poin)Yield wajar IBPA 22 Mar'19
FR00775 tahun7.1647.124-4.007.0582
FR007810 tahun7.6167.597-1.907.5772
FR006815 tahun7.9447.94-0.407.941
FR007920 tahun8.0358.0380.308.045
Avg movement-1.50
Sumber: Refinitiv  


Apresiasi pasar obligasi pemerintah hari ini tidak tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) masih melemah.  

Indeks tersebut turun 0,1 poin (0,04%) menjadi 247,04 dari posisi kemarin 247,14. 

Apresiasi SBN hari ini juga membuat selisih (spread) obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 515 bps, melebar dari posisi kemarin 507 bps.  

Yield US Treasury 10 tahun turun lagi hingga 2,44% dari posisi kemarin 2,53%.  

Terkait dengan porsi investor asing pada pasar obligasi rupiah pemerintah, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan kepemilikan asing di pasar SUN kembali menembus level tertingginya sepanjang masa yaitu menjadi Rp 954,08 triliun pada 20 Maret. 

Porsi investor asing yang masuk ke pasar SUN rupiah juga bertambah dan mencapai rekor tertinggi tahun ini yaitu 38,58%. 

Sejak akhir pekan lalu, investor asing sudah memborong pasar surat utang rupiah pemerintah senilai Rp 11,41 triliun, dan sejak awal tahun tercatat posisi investor luar negeri sudah surplus Rp 60,83 triliun. 

Angka itu juga sudah di atas angka aliran masuk investor asing sepanjang 2018 yang hanya Rp 57,1 triliun.  

Seiring dengan masuknya investor asing tersebut, harga obligasi rupiah negara pun meroket beruntun dan relinya belum berhenti hari ini sejak 12 Maret. 

Penguatan di pasar surat utang hari ini juga terjadi di pasar ekuitas yang naik 0,36% sedangkan rupiah melemah 0,18%. 

Dari pasar surat utang negara berkembang, penguatan terjadi karena sinyal negatif dari nada kalem kebijakan moneter AS semakin membuka peluang negara berkembang menurunkan suku bunganya, dan umumnya akan mendorong naiknya harga obligasi. 

Pasar negara berkembang yang menguat adalah China, India, Rusia, Singapura, Thailand, dan Afrika Selatan. 

Di negara maju, penguatan terjadi luas, yaitu di pasar bund Jerman, OAT Perancis, gilt Inggris, JGB Jepang, dan US Treasury di AS.  


Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang
NegaraYield 21 Mar 2019 (%)Yield 22 Mar 2019 (%)Selisih (basis poin)
Brasil8.76924.00
China3.1633.138-2.50
Jerman0.039-0.017-5.60
Perancis0.4020.344-5.80
Inggris 1.0641.025-3.90
India7.5367.504-3.20
Jepang-0.037-0.072-3.50
Malaysia3.8033.810.70
Filipina5.9866.0051.90
Rusia8.288.25-3.00
Singapura2.0592.047-1.20
Thailand2.482.46-2.00
Amerika Serikat2.5392.446-9.30
Afrika Selatan8.768.73-3.00
Sumber: Refinitiv  


TIM RISET CNBC INDONESIA

Saksikan Video Strategi Dapen dalam Menghadapi Pasar Dovish

[Gambas:Video CNBC]

(irv/irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading