The Fed Kalem, Reli Harga Obligasi Bisa Berlanjut

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
21 March 2019 07:46
The Fed Kalem, Reli Harga Obligasi Bisa Berlanjut
Jakarta, CNBC Indonesia - Penguatan harga obligasi pemerintah di pasar sekunder berpotensi berlanjut hari ini, Kamis (21/3/2019), dan menggenapkan reli menjadi delapan hari berturut-turut.

Reli harga obligasi terjadi sejak 12 Maret hingga kemarin dan membuat tingkat imbal hasilnya (yield) tertekan secara beruntun di pasar.



Pergerakan harga dan yield saling bertolak belakang di pasar obligasi karena yield lebih umum dijadikan acuan transaksi karena sudah mencerminkan harga, kupon, tenor, dan risiko lain dalam satu angka.


Maximilianus Nico Demus, Associate Director Research & Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas, dalam risetnya mengatakan faktor bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve yang tidak menaikkan suku bunga dan memberi sinyal kalem (dovish) akan menjadi pendorong harga hari ini.

"The Fed menyampaikan bahwa kenaikan suku bunga the Fed dapat ditahan untuk beberapa waktu karena adanya risiko global yang membebani prospek ekonomi dan inflasi," tulisnya dalam riset pagi ini.

Jerome Powell, Gubernur The Fed, menyampaikan bahwa bank sentral tidak melihat data yang masuk menunjukkan arah ke mana harus bergerak.

Data tersebut seakan meminta the Fed untuk lebih bersabar dan membiarkan situasi dan kondisinya mengklarifikasi data tersebut.



Para pejabat The Fed juga menyampaikan mereka memangkas proyeksi kenaikan tingkat suku bunga tahun ini dari dua kali menjadi tidak sama sekali.

Tidak hanya itu saja, mereka juga memutuskan untuk memperlambat normalisasi neraca bank sentral yang akan dimulai pada Mei dan akan berakhir pada bulan September, dengan penurunan nilai dari US$ 30 miliar menjadi US$ 15 miliar.

Powell juga menyampaikan bahwa The Fed kian dekat dengan dua sasaran utamanya, yaitu inflasi yang rendah dan stabil serta lapangan kerja yang terus membaik.

Risiko bagi pertumbuhan ekonomi AS tetap ada, yaitu perang dagang, perlambatan pertumbuhan di China dan Eropa, serta proses Brexit yang masih menggantung.
Perkembangan kondisi The Fed tentu akan menjadi titik balik bagi perkembangan arus modal di negara berkembang, salah satunya Indonesia.



"Dengan adanya keyakinan bahwa The Fed akan menahan tingkat suku bunganya, tentu hal ini sekiranya dapat mempengaruhi Bank Indonesia, setidaknya untuk memikirkan untuk menurunkan tingkat suku bunganya pada semester II nanti yang semoga akan dibahas pada rapat dewan gubernur (RDG) pada hari ini," tambah Nico.


TIM RISET CNBC INDONESIA


(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading