Di Sesi Eropa, Dolar Australia Balik Tekuk Dolar AS

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
20 March 2019 18:40
Di Sesi Eropa, Dolar Australia Balik Tekuk Dolar AS
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar dolar Australia yang sempat melemah ke level 0,7055 terhadap dolar AS di sesi Asia, kini berbalik menguat di pertengahan sesi Eropa, pada perdagangan Rabu (20/3/19).

Mengutip kuotasi MetaTrader 5, dolar Australia mencapai level terkuat di kisaran 0,7093 pada pukul 17.44 WIB.

Pembalikan arah memang riskan terjadi di pasar forex jelang pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), pada Kamis (21/3/19) pukul 01:00 WIB atau kurang dari delapan jam lagi. Apalagi arah kebijakan The Fed masih kabur dan muncul berbagai spekulasi di pasar.


Sejak awal pekan, pelaku pasar telah memprediksi The Fed kali ini akan bersikap dovish alias menahan diri. Namun yang menjadi pertanyaan seberapa dovish The Fed nanti?


Mengutip situs CME Group, berdasarkan perangkat FedWatch yang dimiliki, hingga Desember 2019 pelaku pasar melihat kemungkinan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga atau Federal Funds Rate (FFR).

Per 20 Maret, pelaku pasar melihat ada peluang sebesar 71% FFR akan tetap di level saat ini sebesar 2,25%-2,50% saat The Fed merilis kebijakan moneter pada Desember 2019, sedangkan peluang pemangkasan FFR sebesar 25 basis poin menjadi 2,00%-2,25%, hanya sebesar 24%.


Di sisi lain, sebagian pelaku pasar memperkirakan The Fed tidak akan sesabar itu. Mengutip Bloomberg, senior ekonom Bloomberg Economic, Yelena Shulyatyeva, mengatakan The Fed kemungkinan akan menurunkan proyeksi FFR yang sebelumnya diprediksi naik sebanyak dua kali di tahun ini.

Namun bank sentral AS di bawah pimpinan Gubernur The Fed Jerome Powell, diperkirakan masih akan membuka peluang kenaikan FFR satu kali.

Pagi tadi, Australia dollar sempat melemah akibat kembali muncul isu negatif negosiasi dagang AS-China. Negeri Panda merupakan pasar ekspor terbesar Australia, sehingga isu-isu yang berdampak terhadap ekonomi China juga akan mempengaruhi nilai tukar dolar Australia.

Mengutip CNBC International, Bloomberg News melaporkan beberapa pejabat AS khawatir jika China tidak akan mematuhi beberapa kesepakatan.

Namun di sisi lain, negosiator China merasa tidak mendapat jaminan jika tarif impor yang dikenakan oleh AS akan dicabut setelah terjadi kesepakatan antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut.  

TIM RISET CNBC INDONESIA

(pap/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading