Setelah Listing, Produsen Cokelat Ini Bidik Laba Jumbo

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
20 March 2019 11:38
PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) menargetkan pertumbuhan laba bersih pada 2021 bisa naik hingga tiga kali lipat.
Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten produk cokelat PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) menargetkan pertumbuhan laba bersih pada 2021 bisa naik hingga tiga kali lipat dan penjualan tumbuh 80% dibandingkan dengan target tahun ini.

Proyeksi peningkatan yang signifikan itu didorong oleh kenaikan penjualan dan produksi setelah beroperasinya pabrik baru pada 2021.

Tahun ini, COCO membidik pendapatan bisa mencapai Rp 200 miliar dengan laba bersih sekitar Rp 4 miliar. Sebagai perbandingan, pendapatan per September 2018 naik 5,24% menjadi Rp 115,08 miliar dari September 2017 sebesar Rp 109,35 miliar. Laba juga naik 68% menjadi Rp 2,51 miliar dari Rp 1,49 miliar.


Direktur Utama Wahana Interfood Reinald Siswanto mengatakan mulai tahun ini perusahaan akan memulai proses pembangunan pabrik baru di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. 
Sesuai target, pabrik tersebut bisa selesai pada 2021 dan langsung berkontribusi terhadap produksi dan penjualan lebih tinggi.


"[Penjualan] bisa naik 80% karena ada kapasitas mesin baru bisa push penjualan selling out, akhirnya menghasilkan penjualan yang lebih tinggi, laba jadi Rp 11 miliar [di 2021," kata Reinald di gedung Bursa Efek Indonesia usai pencatatan saham perdana, Rabu (20/3/2019).

Setelah pabrik baru beroperasi, kapasitas produksi cokelat akan meningkat menjadi 10.600 ton per tahun, naik dari kapasitas produksi saat ini di 6.000 ton/tahun.


Penambahan produksi ini juga diharapkan bisa mendorong peningkatan penjualan ekspor cokelat dengan merk Schoko ini menjad 10% dalam 2 tahun ke depan. Penjualan ekspor saat ini hanya 1% mengingat tingkat permintaan dalam negeri yang masih terbilang tinggi.

Wahana Interfood mengekspor cokelat ke negara-negara ASEAN, Jepang, Korea Selatan, Australia, Spanyol hingga Amerika Serikat. Dia menegaskan belum ada penambahan pasar ekspor baru karena perseroan hanya meningkatkan volume penjualan di pasar tersebut.

"Sekarang penjualan ekspor masih dikuota, setelah ada pabrik baru akan dipasok dengan volume yang lebih tinggi," jelas dia.

Untuk dalam negeri, penjualan dilakukan dengan skema bussiness to bussiness (B2B) ke produsen pembuat roti atau bakery dan beberapa waralaba coffee shop internasional yang beroperasi di Indonesia.

Dana pembangunan pabrik baru akan dianggarkan dari hasil penawaran umum atau initial public offering (IPO) yang mencapai Rp 33,26 miliar. Penggunaan di antaranya untuk pembelian tanah, pembangunan pabrik dan pembelian mesin-mesin.


Data BEI mencatat, saham COCO resmi dicatatkan di papan pengembangan BEI pada Rabu 20 Maret ini dan menjadi emiten ke 7 tahun ini dan ke-625 di BEI. Kapitalisasi pasarnya mencapai Rp 170,69 miliar.


Saham COCO langsung melesat hingga 69,70% pada perdagangan perdana hari ini di level Rp 336/saham dari harga perdana Rp 198/saham dan terkena auto reject karena penguatan di atas batas.

Perusahaan melepas 168 juta saham ke publik dengan harga perdana Rp 198/saham. Total saham yang dicatatkan sebanyak 508 juta saham, karena ada saham pendiri sebanyak 340 juta saham.

Perseroan juga merilis waran dengan harga pelaksanaan Rp 400/saham dengan periode transaksi 20 Maret 2019-16 Maret 2022.

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading