Ekspor Februari Loyo, Ini Daftar Barang yang Naik dan Turun
Iswari Anggit Pramesti,
CNBC Indonesia
15 March 2019 11:52
Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan neraca dagang pada Bulan Februari 2019 surplus US$ 330 juta. Menurutnya, surplus ini terjadi karena penurunan impor yang cukup dalam, yakni turun sebesar 13,98% ketimbang Bulan Februari 2018 (year-on-year/ yoy), menjadi US$ 12,20 miliar.
"Kita tidak bisa memilah penyebabnya, tapi kita tahu pemerintah ada kebijakan mengendalikan impor, misalnya impor bahan konsumsi PPh-nya dinaikkan karena bisa diproduksi di dalam negeri, dan menjadi substitusi barang-barang tersebut, ada juga kebijakan B20," jelasnya saat konferensi pers, Jumat (15/3/2019).
Namun sayang, penurunan impor tidak disertai dengan peningkatan ekspor. Ekspor pada Bulan Februari 2019 justru menurun 11,33% yoy, menjadi US$ 12,53 miliar.
"Untuk ekspor Bulan Februari 2019, sektor migas turun 21,75%, dan nonmigas turun 10,19% year on year."
Lantas, apa saja sih komoditas ekspor yang mengalami penurunan?
Berdasarkan data BPS, untuk sektor migas industri pengolahan hasil minyak dan pertambangan, masing-masing turun 34,44% dan 20,74%, sementara pengadaab gas masih mengalami peningkatan 1,74%.
Selain itu, untuk sektor nonmigas, dari 10 golongan barang yang menjadi ekspor utama Indonesia pada periode Januari - Februari 2019, delapan di antaranya mengalami penurunan, sementara dua lainnya meningkat.
Berikut penjabarannya (yoy):
(dru) Add
as a preferred
source on Google
Next Article
Istana Tak Risau, Ekspor Februari Terkontraksi Sejak 2017
"Kita tidak bisa memilah penyebabnya, tapi kita tahu pemerintah ada kebijakan mengendalikan impor, misalnya impor bahan konsumsi PPh-nya dinaikkan karena bisa diproduksi di dalam negeri, dan menjadi substitusi barang-barang tersebut, ada juga kebijakan B20," jelasnya saat konferensi pers, Jumat (15/3/2019).
Namun sayang, penurunan impor tidak disertai dengan peningkatan ekspor. Ekspor pada Bulan Februari 2019 justru menurun 11,33% yoy, menjadi US$ 12,53 miliar.
Foto: Konferensi pers BPS terkait Kinerja Ekspor-Impor (CNBC Indonesia/Iswari Anggit) |
Lantas, apa saja sih komoditas ekspor yang mengalami penurunan?
Berdasarkan data BPS, untuk sektor migas industri pengolahan hasil minyak dan pertambangan, masing-masing turun 34,44% dan 20,74%, sementara pengadaab gas masih mengalami peningkatan 1,74%.
Selain itu, untuk sektor nonmigas, dari 10 golongan barang yang menjadi ekspor utama Indonesia pada periode Januari - Februari 2019, delapan di antaranya mengalami penurunan, sementara dua lainnya meningkat.
Berikut penjabarannya (yoy):
- Bahan bakar mineral turun 8,77%, dari US$ 3,94 miliar menjadi US$ 3,59 miliar.
- Lemak dan minyak hewan/ nabati turu 15,06%, dari US$ 3,46 miliar menjadi US$ 2,94 miliar.
- Perhiasan/ permata turun 6,53%, dari US$ 1,16 miliar menjadi US$ 1,08 miliar.
- Alas kaki turun 4,89% dari US$ 841 juta menjadi US$ 800 juta.
- Bahan kimia organik naik 9,32%, dari US$ 473 juta menjadi US$ 517 juta.
- Bijih, kerak, dan abu logam turun 44,76%, dari US$ 804 juta menjadi US$ 444 juta.
- Bubur kayu/ pulp turun 16,20%, dari US$ 415 juta menjadi US$ 348 juta.
- Tembaga turun 39,09%, dari US$ 339 juta menjadi US$ 206 juta.
- Timah turun 17,82%, dari US$ 244 juta menjadi US$ 201 juta.
- Bahan kimia organik naik 17,35%, dari US$ 146 juta menjadi US$ 171 juta.
(dru) Add
source on Google
Foto: Konferensi pers BPS terkait Kinerja Ekspor-Impor (CNBC Indonesia/Iswari Anggit)