Perang Dagang AS-China Mencair, Bursa Saham Asia Menghijau

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
04 March 2019 09:13
Bursa saham utama kawasan Asia kompak dibuka di zona hijau pada perdagangan hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham utama kawasan Asia kompak dibuka di zona hijau pada perdagangan hari ini: indeks Nikkei naik 0,97%, indeks Shanghai naik 0,73%, indeks Hang Seng naik 0,15%, indeks Straits Times naik 0,13%, dan indeks Kospi naik 0,71%.

Perang dagang AS-China yang terus saja mencair berhasil membangkitkan mood pelaku pasar untuk memburu instrumen berisiko seperti saham. Wall Street Journal (WSJ) melaporkan pada hari Minggu (3/3/2019) bahwa kedua negara hampir merampungkan kesepakatan dagang besar yang akan membuat kedua belah pihak menurunkan beberapa bea masuk yang telah dikenakan satu sama lain dalam perang dagang.

Dalam laporannya, WSJ mengatakan bahwa perundingan dagang yang digelar bulan lalu di Washington telah membantu AS dan China mempersempit perbedaan di antara mereka yang berarti perjanjian formal akan siap untuk ditandatangani ketika Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu pada bulan ini.


Masih melansir laporan WSJ, China dikabarkan telah secara tentatif setuju untuk menurunkan bea masuk atau melonggarkan hambatan-hambatan bagi produk-produk impor asal AS seperti pertanian, kimia, dan otomotif.

Para negosiator dari China juga telah menawarkan untuk mempercepat penghapusan batas kepemilikan asing di bidang usaha mobil dan menurunkan bea masuk kendaraan menjadi hingga di bawah 15%.

Sebagai timbal baik dari etikat baik tersebut, pihak AS akan menghapuskan sebagian besar sanksi dagang yang dikenakannya kepada China tahun lalu.

Sejauh ini, balas-membalas bea masuk yang dilakukan kedua negara terlihat jelas sudah menyakiti perekonomian masing-masing, berikut perekonomian dunia.

Di China, pada tanggal 1 Maret lalu Manufacturing PMI periode Februari 2019 versi Caixin diumumkan di level 49,9, seperti dilansir dari Trading Economics. Sebagai catatan, angka di bawah 50 menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur mengawali kontraksi jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Kemudian di AS pada tanggal yang sama, Manufacturing PMI periode Februari 2019 versi ISM diumumkan di level 54,2. Walaupun berada di atas level 50 yang menunjukkan adanya ekspansi jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, ekspansi yang terjadi tak sekencang yang diharapkan. Melansir Forex Factory, konsensus untuk data tersebut berada di level 55,6.

Jika sampai bea masuk yang telah dikenakan satu sama lain dikurangi atau dihilangkan sepenuhnya, tentu arus perdagangan dunia akan kembali pulih dan mendorong pertumbuhan ekonomi ke level yang lebih tinggi.

TIM RISET CNBC INDONESIA
Artikel Selanjutnya

WTO Panaskan AS-China, Bursa Asia Kompat Menguat


(ank/hps)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading