Ditopang Kesepakatan Dagang AS-China, Bursa Asia Ditutup Naik

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
16 January 2020 17:23
Mayoritas bursa saham utama kawasan Asia menutup perdagangan keempat di pekan ini, Kamis (16/1/2020), di zona hijau.
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa saham utama kawasan Asia menutup perdagangan keempat di pekan ini, Kamis (16/1/2020), di zona hijau.

Pada penutupan perdagangan, indeks Nikkei terapresiasi 0,07%, indeks Hang Seng naik 0,38%, indeks Straits Times terkerek 0,65%, dan indeks Kospi menguat 0,77%.

Formalisasi kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China menjadi sentimen positif yang memantik aksi beli di bursa saham Benua Kuning. Kemarin waktu setempat, Rabu (15/1/2020), AS dan China menandatangani kesepakatan dagang tahap satu di Gedung Putih, AS.


Dari pihak AS, penandatanganan dilakukan langsung oleh Presiden Donald Trump, sementara pihak China mengirim Wakil Perdana Menteri Liu He.

"Hari ini kami mengambil langkah penting yang belum pernah dilakukan sebelumnya dengan China, yang akan memastikan perdagangan yang adil dan saling menguntungkan," kata Trump saat seremoni penandatanganan di Gedung Putih, Washington, AS, seperti dikutip dari AFP.

"Bersama-sama, kita (akan) memperbaiki kesalahan masa lalu," kata Trump lagi.

"Negosiasi ini sulit bagi kami. Tapi ini terobosan yang sangat luar biasa."

Sementara itu, pihak China juga melontarkan nada positif terkait kesepakatan dagang tahap satu dengan AS.

"Kesepakatan ini baik untuk China, untuk AS, dan untuk seluruh dunia," ucap Liu kala membacakan surat dari Presiden China Xi Jinping kepada Trump.

Sesuai dengan yang diumumkan oleh Trump pada bulan Desember, melalui kesepakatan dagang tahap satu AS akan memangkas bea masuk sebesar 15% terhadap produk impor asal China senilai US$ 120 miliar menjadi setengahnya atau 7,5%.

Sebelumnya, AS telah membatalkan rencana untuk mengenakan bea masuk tambahan terhadap produk impor asal China pada tanggal 15 Desember. Untuk diketahui, nilai produk impor asal China yang akan terdampak oleh kebijakan ini sejatinya mencapai US$ 160 miliar.

Lebih lanjut, kesepakatan dagang tahap satu antara AS dan China memasukkan komitmen dari China untuk membeli produk asal AS senilai US$ 200 miliar dalam kurun waktu dua tahun.

Kemudian, kesepakatan dagang tahap satu AS-China juga akan membereskan komplain dari AS terkait pencurian hak kekayaan intelektual dan transfer teknologi secara paksa yang sering dialami oleh perusahaan-perusahaan asal Negeri Paman Sam.

Melalui kesepakatan dagang tahap satu, China diwajibkan untuk membuat proposal terkait lankah-langkah yang akan diadopsi untuk memperkuat perlindungan hak kekayaan intelektual. Proposal tersebut harus disampaikan ke AS dalam waktu 30 hari setelah kesepakatan dagang tahap satu resmi berlaku.

Terkait dengan transfer teknologi secara paksa yang sering dialami oleh perusahaan-perusahaan asal Negeri Paman Sam, di dalam kesepakatan dagang tahap satu disebutkan bahwa perusahaan-perusahaan harus bisa beroperasi di China "tanpa adanya paksaan atau tekanan dari pihak lain untuk mentransfer teknologinya ke pihak lain."

Sebelum penandatanganan kesepakatan dagang tahap satu, AS memutuskan untuk mencopot label "manipulator mata uang" yang sempat disematkannya kepada China.

Seperti yang diketahui, pada tahun lalu AS melalui kementerian keuangannya menyematkan label "manipulator mata uang" kepada Beijing. Penyebabnya, People's Bank of China (PBOC) selaku bank sentral China seringkali dengan sengaja melemahkan nilai tukar yuan. Hal ini dilakukan untuk menggenjot ekspor Negeri Panda.

TIM RISET CNBC INDONESIA
(ank/ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading