Buruknya Data Ekonomi AS Seret Turun Wall Street

Market - Prima Wirayani, CNBC Indonesia
22 February 2019 06:24
Buruknya Data Ekonomi AS Seret Turun Wall Street
Jakarta, CNBC Indonesia - Wall Street tergelincir turun, Kamis (21/2/2019), setelah rilis beberapa data ekonomi Amerika Serikat (AS) mengecewakan investor.

Dow Jones Industrial Average melemah 0,4%, S&P 500 turun 0,35%, dan Nasdaq Composite kehilangan 0,39% di akhir perdagangan.

Data terbaru menunjukkan aktivitas perekonomian Negeri Paman Sam terganggu.


Pemesanan barang tahan lama di Desember naik 1,2%. Sementara itu, pemesanan barang modal inti turun 0,7%, menurut data Departemen Perdagangan, jauh di bawah perkiraan ekonom yang disurvei Reuters sebesar 0,2%.



Indeks bisnis Federal Reserve Philadelphia anjlok ke level negatif 4,1 di Februari, level terendahnya sejak Mei 2016, dari positif 17 di Januari. Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan angka itu ada di positif 14, dilansir dari CNBC International.

"Data fundamental yang memburuk akan mulai berdampak negatif lagi pada harga aset-aset dalam beberapa kuartal ke depan," kata Hugo Rogers, chief investment strategist di Deltec International Group.

"Di saat itu, The Fed mungkin perlu melakukan sesuatu yang lebih dramatis dari sekadar menunggu dan melihat," ujarnya.

IHS Markit juga mengatakan indeks PMI manufaktur AS turun ke 53,7 di Februari dari 54,9 bulan lalu. Ini adalah posisi terendahnya dalam 17 bulan terakhir.

Rilis data-data tersebut dilakukan sehari setelah bank sentral AS Federal Reserve mempublikasikan risalah pertemuannya di akhir Januari lalu. Catatan itu menggarisbawahi berbagai risiko terhadap perekonomian AS, termasuk hilangnya dampak stimulus fiskal atau mengetatnya kondisi pasar keuangan.

Di saat yang sama, para pejabat tinggi AS dan China bertemu di Washington hari Kamis. Beberapa laporan pada Kamis pagi mengatakan kedua negara telah mulaiĀ menyusun rancangan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MOU) terkait perdagangan.



AS dan China tengah berupaya menyelesaikan kesepakatan dagang sebelum tenggat waktu 1 Maret tiba. Namun, Presiden AS Donald Trump telah mengindikasikan bersedia memperpanjang deadline itu bila kedua pihak telah mendekati kata sepakat. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading