SUN Ketengan Jatuh Tempo 2019 Capai Rp 55 T

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
14 February 2019 18:58
SUN Ketengan Jatuh Tempo 2019 Capai Rp 55 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Pelaku pasar obligasi tidak khawatir penerbitan surat berharga negara (SBN) ritel pemerintah senilai Rp 80 triliun tahun ini dapat menyebabkan pemerintah berkompetisi dengan swasta dalam menghimpun dana di pasar keuangan (crowding out effect).

Head of Fixed Income Research PT Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan jumlah rencana penerbitan SBN ritel tersebut juga termasuk yang ditawarkan secara terbatas (private placement) sehingga kemungkinan SBN ritel yang akan dijual kepada publik hanya Rp 60 triliun.

"Belum lagi, tahun ini ada SBN ritel yang jatuh tempo sekitar Rp 55 triliun sehingga selisihnya tidak akan besar jika seluruh dana yang sudah jatuh tempo itu direinvestasikan kembali ke SBN ritel yang ditawarkan kepada publik tahun ini," ujarnya pekan ini (13/2/19).


Tahun ini, pemerintah berniat memasarkan SBN ritel secara online delapan kali dan secara offline dua kali.

Masing-masing penawaran online tersebut akan terdiri dari penawaran obligasi konvensional bernama obligasi tabungan ritel (saving bond retail/SBR) dan sukuk tabungan (ST), sedangkan penawaran offline akan berupa konvensional bernama obligasi negara ritel (ORI) dan sukuk ritel (SR).

Awalnya, penerbitan SBN ritel yang ramai dikhawatirkan dapat memicu terjadinya perebutan likuiditas di pasar keuangan, terutama di industri reksa dana, obligasi, dan perbankan.

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum.

Di pasar SUN, Handy memprediksi potensi keuntungan (return) dari pasar obligasi dapat mencapai 10%-11% yang akan berasal dari selisih harga (capital gain) dan dari kuponnya.

Menurut dia, ada lima faktor yang mendukung prediksi positifnya terhadap pasar efek utang pemerintah tahun ini.

Faktor itu terdiri dari yield yang masih lebih tinggi dibanding awal 2018, suku bunga acuan domestik 7 days reverse repo rate (7DRRR) mendekati level tertingginya, dan kebijakan fiskal dan moneter yang prudent akan positif untuk prospek peringkat utang pemerintah Indonesia.

Faktor lain adalah lebih banyaknya investor asing yang berinvestasi pada obligasi tenor panjang tahun ini dan akan ada dukungan dari investor dalam negeri karena pemerintah berencana menurunkan pajak untuk instrumen obligasi.

TIM RISET CNBC INDONESIA (irv/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading