Saham FREN & ISAT Kompak Menguat, Ini Jawaban Direksinya

Market - Houtmand P Saragih & tahir saleh, CNBC Indonesia
14 February 2019 17:28
Saham FREN & ISAT Kompak Menguat, Ini Jawaban Direksinya
Jakarta, CNBC Indonesia - Dua saham emiten telekomunikasi PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) dan PT Indosat Tbk (ISAT) ditutup melesat masing-masing 32,66% dan 17,19% pada penutupan perdagangan Kamis (14/2/2019), di tengah kabar merger dua operator telekomunikasi ini.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat saham FREN melesat 32,66% di level Rp 264/saham dengan nilai transaksi Rp 202,36 miliar, sementara saham ISAT naik 17,19% di level Rp 3.750/saham dengan nilai transaksi 174,49 miliar. Keduanya melanjutkan penguatan yang terjadi sejak awal perdagangan hingga sesi I berakhir.

Santernya informasi konsolidasi dua emiten telco ini kian terasa ketika Danareksa Sekuritas merilis riset terkait dengan proyeksi jika kedua operator tersebut bergabung (merger) dan menantang PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT XL Axiata Tbk (EXCL), dan 3 milik Hutchison.


Namun manajemen emiten ini hanya menjawab bahwa konsolidasi saham adalah ranah dari pemegang saham. Direktur Utama Smartfren Telecom Merza Fachys menegaskan manajemen hanya fokus pada upaya meningkatkan pertumbuhan bisnis perusahaan.

"Ini ranahnya pemegang saham. Kami manajemen yang penting berupaya keras agar kinerja pertumbuhan perusahaan sangat bagus," katanya kepada CNBC Indonesia. "Kalau hal itu [kenaikan harga saham] direspons positif oleh pasar, kami sangat happy."

Presiden Direktur Indosat Chris Kanter juga menampik kabar tersebut, kendati sebelumnya pernah mengungkapkan ada pembicaraan dengan operator telekomunikasi lain yakni XL. 


"Enggak ada pembicaraan apapun dengan Fren dan XL [saat ini]," kata Chris dalam pesan WhatsApp-nya, Kamis (14/2/2019).

Sebelumnya beredar kabar rencana merger Indosat dan XL. Ketika itu Chris mengakui memang sudah ada pembicaraan secara intensif antara Ooredoo sebagai induk Indosat dengan pemegang saham EXCL terkait merger dan akuisisi dengan XL sejak tahun lalu. "Tahun ini kami fokus ke network expansion dulu, [wacana merger dengan XL] itu kan waktu lalu," kata Chris Kanter, Selasa (29/1/2019).

Pada Kamis ini, Danareksa merilis laporan terkait proyeksi merger kedua operator tersebut yang memicu liar saham FREN dan ISAT, bersamaan. Dalam risetnya, Danareksa menilai simulasi FREN-ISAT yang dikabarkan berpeluang terjadi akan menciptakan perusahaan telekomunikasi yang dapat menawarkan kualitas layanan yang lebih baik-sampai tingkat tertentu-dan secara efektif mendorong tingkat pengembalian yang lebih baik.


"Dan kami percaya entitas yang dikonsolidasikan juga akan memiliki pangsa pendapatan tertinggi ke-2 dan ini akan cukup untuk menekan XL Axiata," tulis riset Danareksa.

Menurut Danareksa, penggabungan antara FREN (nonrated) dan ISAT (rated) akan mewujudkan sinergi peningkatan kinerja jaringan (melalui penggabungan spektrum frekuensi yang dialokasikan untuk keduanya). Selain itu, merger itu juga akan mendorong penggunaan data yang lebih tinggi dan memberikan harga kompetitif pada jaringan yang akan memiliki kinerja lebih baik.

Saat ini, tulis Danareksa, basis jaringan yang dimiliki FREN ialah 4G LTE yang memiliki kinerja terbaik di antara kompetitornya setelah Telkomsel menurut data Opensignal. FREN punya lisensi untuk beroperasi dengan spektrum 41 MHz, atau kurang dari alokasi spektrum ISAT dan EXCL, tapi lebih tinggi dari Hutchison 3.

Skala Smartfren yang relatif kecil menghadirkan tantangan, karena FREN akan membukukan kerugian operasi untuk beberapa waktu sebelum mencapai massa kritis. ISAT mempertahankan basis pelanggan suara dan data, yang menggunakan frekuensi spektrum 47,5 MHz dan memiliki kehadiran yang kuat di segmen bisnisnya.

"Jaringan ISAT terus berkinerja relatif rendah terhadap kompetitornya, dan yang telah menyebabkan ISAT membukukan kerugian operasi hingga akhir-akhir ini, meskipun mereka masih menikmati dukungan dari investor strategisnya Qatar Ooredoo."


Simak wawancara dengan Direktur Utama Smartfren Telecom Merza Fachys.
[Gambas:Video CNBC]

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading