Internasional

Meski Konsumsi Lesu, Jepang Tetap Naikkan Pajak Penjualan

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
13 February 2019 13:48
Meski Konsumsi Lesu, Jepang Tetap Naikkan Pajak Penjualan
Tokyo, CNBC Indonesia - Oktober masih merupakan "waktu yang tepat" bagi Jepang untuk menaikkan pajak penjualan karena risiko yang ditimbulkan oleh ketegangan perdagangan global cenderung bersifat sementara, kata seorang pejabat di lembaga pemeringkat Moody's Investors Service, Rabu (13/2/2019).

Christian de Guzman, wakil presiden lembaga pemeringkat itu juga mengatakan prospek pertumbuhan Jepang tetap stabil sebagian karena didukung oleh kebijakan moneter yang akomodatif.

Bank of Japan (BoJ) dapat mempertahankan kebijakan akomodatifnya untuk saat ini, karena sektor keuangan negara itu cukup kuat untuk menahan kondisi suku bunga rendah saat ini, katanya kepada wartawan, mengutip Reuters.

Pandangan Moody's itu dapat membantu meredakan kekhawatiran bahwa ekonomi Jepang tidak cukup kuat untuk menahan beban kenaikan pajak penjualan yang diperlukan untuk membayar kenaikan biaya kesejahteraan karena masyarakatnya yang semakin tua.


Jepang dijadwalkan akan menaikkan pajak menjadi 10% dari 8% pada Oktober.

"Ini mungkin masih waktu yang paling tepat untuk menaikkan pajak konsumsi ... mengingat latar belakang pertumbuhan yang relatif stabil dan ada stabilitas politik," kata de Guzman.

Beberapa ekonom dan pembuat kebijakan khawatir kenaikan pajak akan melemahkan konsumsi pada saat risiko terhadap prospek Jepang meningkat.

Untuk meminimalisir tekanan terhadap pengeluaran konsumen, pemerintah berencana untuk memperpanjang keringanan pajak dan subsidi untuk rumah tangga.

Meski Konsumsi Lesu, Jepang Tetap Naikkan Pajak PenjualanFoto: REUTERS/Issei Kato

Jepang sangat rentan terhadap risiko akibat perang dagang AS-China karena pabrikannya fokus membuat komponen elektronik dan mesin berat untuk diekspor ke China dan pusat-pusat manufaktur lainnya.

De Guzman mengatakan risiko yang ditimbulkan oleh perlambatan ekonomi China dan proteksionisme perdagangan AS lebih bersifat siklis daripada struktural, sehingga Moody's masih memiliki pandangan optimistis.

Meski beban utang Jepang besar, yaitu sekitar dua kali ukuran output ekonominya, namun kemampuan Tokyo untuk membayar utangnya tetap stabil karena anggaran rumah tangga dan tabungan perusahaannya besar, katanya.

Moody's memperkirakan bahwa pengeluaran fiskal Jepang terkait penuaan dapat meningkat menjadi sekitar 65% dari pengeluaran pemerintah pada tahun 2040.


Jumlah ini juga telah naik dari sekitar 55% pada tahun 2016, sehingga melahirkan wacana tentang pentingnya meningkatkan pendapatan pemerintah.


Saksikan video mengenai robot buatan Jepang berikut ini.

[Gambas:Video CNBC]


(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading