Credit Suisse Vs JP Morgan, Ini Saran Warren Buffett

Market - Houtmand P Saragih & Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
13 February 2019 12:34
Credit Suisse Vs JP Morgan, Ini Saran Warren Buffett
Jakarta, CNBC Indonesia - Credit Suisse dan JP Morgan boleh berbeda pandangan soal investasi saham di Indonesia. Padahal rekomendasi dan analisa dari bank investasi sering jadi panduan pemodal dalam mengambil keputusan investasi. 

Bagi investor pemula, bahkan yang berpengalaman sekalipun, kadang bingung jika mendapati ada dua proyeksi yang berbeda tersebut. Untuk itu, apa yang seharusnya dilakukan?

Warren Buffett, investor legendari yang juga pemilik dan CEO of Berkshire Hathaway, punya cara sendiri dalam melihat dan menganalisis pasar saham.


Pria yang punya nama kecil atau julukan "Oracle of Omaha" punya filosofi tersendiri dalam menganalisis pasar saham.

Warren Buffett menekankan jangan percaya pada proyeksi atau prediksi, khususnya dari seseorang ataupun lembaga keuangan yang punya kepentingan finansial dalam membuat proyeksi tersebut.


Apapun instrumen investasi yang anda beli, baik itu saham, properti atau yang lainnya, CEO Berkshire Hathaway menyarankan untuk melakukan riset sendiri. Jangan percaya para ahli.

"Jangan bertanya kepada tukang cukur apakah Anda perlu potong rambut," kata Buffett kepada hadirin pada pertemuan tahunan Berkshire 1994.

Rekan lama Buffett, Charlie Munger, ingat dia dan Warren ditawari buku tebal proyeksi senilai $ 2 juta selama proses pembelian bisnis.

"Kami hampir membayar $ 2 juta untuk tidak melihatnya. Saya tidak mengerti mengapa ada pembeli bisnis yang melihat sekelompok proyeksi yang disatukan oleh penjual ... atau agennya,"kata dia.


Memperoleh informasi atau mempercayai analisis dari seseorang yang memiliki minat pada kesepakatan tertentu itu merugikan karena bias bawaannya. Munger menyebut proyeksi secara intrinsik berbahaya.

Buffett meninjau laporan tahunan dan pengajuan lainnya untuk menarik kesimpulannya sendiri. Dia percaya Anda harus tetap dengan bisnis yang dapat Anda evaluasi sendiri.

Metodologi 88 tahun itu terbukti tidak hanya berwawasan luas tetapi juga berhasil. Berkshire telah mengembalikan 20 persen per tahun selama 40 tahun terakhir, dua kali lipat dari S&P 500 selama rentang waktu yang sama, menurut FactSet.

Lalu apa revelansi dalam konteks kekinian sampai harus mengingat ulang filosofi dari Warren Buffet tersebut?


Kemarin perusahaan sekuritas global Credit Suisse menurunkan rekomendasi terhadap pasar saham Indonesia menjadi 10% underweight (mengurangi bobot) dari sebelumnya 20% overweight (menambah bobot) karena penguatan signifikan pasar saham domestik sejak Mei 2018.

Riset tersebut dipublikasikan oleh analis Credit Suisse yakni Alexander Redman dan Arun Sai. Keduanya memandang terjadi penguatan indeks MSCI Indonesia US Dollar sebesar 34% di atas indeks MSCI Emerging Market (EM) sejak pertengahan Mei 2018.

"Saat ini kami melihat ada kesempatan untuk menurunkan eksposur ke aset di Indonesia sebelum pasar memasuki fase underperformance karena enam alasan," ujar mereka.

Kemudian pada saat yang hampir bersamaan, JP Morgan mengluarkan riset serupa yang menyampaikan pandangannya terhadap pasar saham di negara berkembang termasuk Indonesia.

JP Morgan menilai pasar saham Indonesia akan menjadi salah satu negara di emerging market dengan pertumbuhan dua digit pada tahun ini setelah tahun lalu melewati masa yang menantang.

Head of Currencies, Commodities and EM Research JP Morgan Luis Oganes mengatakan tekanan yang terjadi di semester kedua tahun lalu diperkirakan masih akan berlanjut di awal 2019.

Namun diperkirakan, tekanan tersebut mulai berbalik arah pada kuartal kedua dan siklus tekanan ini akan berakhir di akhir 2019.

"Setelah paruh kedua yang menantang di tahun lalu yang dialami banyak ekonomi negara emerging market, efek akumulasi kemungkinan akan memicu pelemahan pada awal tahun ini, tapi kami prediksi cyclical pickup mulai terjadi pada kuartal kedua 2019, dan diikuti dengan berakhirnya siklus ini di akhir tahun," tulis Oganes dalam risetnya, dikutip CNBC Indonesia, Rabu (13/2).

Dia menilai pasar saham Brasil, Chili, Indonesia dan Rusia akan mengalami pertumbuhan double digit di tahun ini dengan rekomendasi overweight. Brazil diperkirakan akan terus mengalami pemulihan seiring dengan pelantikan presiden baru Brazil, Jair Bolsonaro, pada 1 Januari 2019.

Pada 2019, Amerika Latin juga diprediksi menjadi kawasan dengan aktivitas ekonomi sedikit lebih cepat, meski China menjadi kontributor utama terjadinya perlambatan ekonomi di negara-negara emerging market. Ekonomi China pada 2018 hanya tumbuh 6,6%, laju ini adalah yang paling lambat sejak 1990.


Credit Suisse Vs JP Morgan, Ini Saran Warren BuffetFoto: Infografis/ Petuah Warren Buffett /Edward Ricardo
(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading