Samuel Sekuritas: 2018, Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,15-5,16%

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
04 February 2019 15:22
Samuel Sekuritas: 2018, Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,15-5,16%
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Samuel Sekuritas Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan keempat 2018 berada pada level 5,15-5,16% secara tahunan. Level tersebut tak jauh berbeda dari pertumbuhan triwulan sebelumnya.

Konsumsi domestik masih akan menjadi penopang terbesar pertumbuhan ekonomi seiring dengan penjualan ritel yang tumbuh pada triwulan keempat.

"Domestic consumption tumbuh cukup kuat dilihat dari pertumbuhan ritel rata rata September-Desember 2018 tumbuh 4,6%, sama seperti triwulan ketiga 2018," ujar Ekonom Samuel Sekuritas, Achmad Mikail, saat ditemui CNBC Indonesia di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (4/2/2019).


Sebagai perbandingan, konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2018 sebesar 5,12% secara tahunan atau year-on-year (YoY) dan 5,15% untuk keseluruhan 2018. Konsumsi, menurut Mikail, menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan di atas 5%.

Di sisi lain, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), tumbuh cukup kencang, selaras dengan pertumbuhan kredit perbankan nasional di level 12% secara tahunan.

"Pertumbuhan kontribusi PMTB bersumber dari kredit bank, selama itu tumbuh kencang, maka investasi juga bisa kencang," ujarnya.

Mikail memperkirakan, dari sisi PMTB bisa bertumbuh pada kisaran 6,3 - 6,7% secara tahunan, sementara dari sisi realisasi investasi tahun lalu hanya tumbuh 4% atau mencapai Rp 721.3 triliun. Angka ini meleset dari target yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 765 triliun dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Data BKPM menyebutkan, porsi penanaman modal asing (PMA) tercatat sebesar Rp 99 triliun, atau turun 11,6% dibandingkan periode yang sama tahun 2017 yang berada di posisi Rp 112 triliun.

"Memang investasi asing langsung [foreign direct investment] tidak mencapai target, tapi kalau PMTB dalam negeri tumbuh, searah dengan pertumbuhan kredit perbankan," ujarnya.

Mikail menjelaskan, faktor yang menurunkan pertumbuhan ekonomi tahun lalu bersumber dari neraca perdagangan yang defisit.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2018 defisit US$ 8,57 miliar. Defisit tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah semenjak 2008 lalu.

Defisit disebabkan impor yang melonjak 20,15% pada 2018 menjadi US$ 188,63 miliar dari tahun sebelumnya US$ 156,99 miliar. Adapun ekspor hanya tumbuh 6,65% menjadi US$ 180,06 miliar, dibanding tahun sebelumnya US$ 168,83 miliar.

"Dari segi konsumsi domestik, investasi di 2018 kuat, tapi ekspor-impornya yang defisit menurunkan pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Jika pertumbuhan ekonomi di level 5,15-5,16% terwujud, maka capaian ini lebih baik tahun 2017 yang tumbuh 5,07%. Namun bila dibandingkan asumsi APBN 2018 yakni 5,4%, memang angka realisasi 2018 tampaknya masih jauh dari ekspektasi pemerintah.

Positifnya, kata Mikail, jika terealisasi pertumbuhan ekonomi 5,15%, maka akan menjadi capaian terbaik sejak 2013. Bahkan menjadi rekor tertinggi pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, meski sangat jauh dari target 7% yang dijanjikannya kala kampanye pada 2014.
(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading