Sembari Menunggu Dialog AS-Cina, Harga Emas Meroket

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
31 January 2019 - 16:42
Sembari Menunggu Dialog AS-Cina, Harga Emas Meroket
Jakarta, CNBC Indonesia - Sore hari ini (31/1/2019), harga emas dunia masih terus merangkak naik.

Hingga pukul 16:00 WIB, harga emas kontrak April di pasar COMEX menguat sebesar 0,76% ke posisi US$ 1.325,5/troy ounce, setelah sebelumnya juga ditutup menguat 0,5% kemarin (30/1/2019).

Secara mingguan harga emas menguat 3,56% secara point-to-point, sedangkan sejak awal tahun harga komoditas ini tercatat naik 3,44%.




Selepas rapat komite pengambil kebijakan (FOMC) Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang selesai digelar kemarin malam, memberi konfirmasi pada pasar bahwa suku bunga acuan The Fed (FFR) masih tetap pada level yang sekarang (2,25% - 2,5 %).

Meskipun pelaku pasar sudah memprediksi hal tersebut dan price-in, namun pernyataan The Fed yang kian melunak (dovish) masih bisa membuat pasar kembali bersorak sorai.

"Peluang kenaikan suku bunga telah melemah," kata Powell dalam konferensi pers setelah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari berakhir, dilansir dari CNBC International.

Selain itu, pernyataan The Fed kali ini berbeda dengan kebijakan beberapa tahun terakhir, yang mana menghilangkan pernyataan "kenaikan suku bunga lanjutan secara bertahap" sebagaimana tertulis dalam pernyataan rapat di Desember lalu.

Dengan begini, posisi dolar masih akan terus tertekan di hadapan mata uang negara-negara berkembang.

Bahkan selepas pernyataan The Fed, nilai Dollar Index (DXY) yang mencerminkan posisi greenback terhadap 6 mata uang utama dunia ikut terkapar. Sebagai informasi, hari ini nilai DXY masih terus terkontraksi 0,03%.

Dengan melemahnya dolar, maka harga emas pun menjadi relatif lebih murah untuk pemegang mata uang lain. Membuat emas makin menarik untuk investor.

Pada saat yang bersamaan, investor juga masih menantikan perkembangan dari perseteruan perdagangan antara dua raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat dan China.

Hingga minggu lalu, aura damai dagang kian positif. Bahkan selepas pertemuan di Beijing, wakil perdana menteri Liu He kembali mengagendakan perjalanan balasan ke Washington untuk kembali membuka dialog.

Ini menunjukkan keseriusan kedua negara untuk memecahkan kebuntuan yang sudah berbulan-bulan tanpa solusi.

Namun ketegangan kembali mencuat pasca kemarin pemerintah AS menjatuhkan tuntutan pidana pada perusahaan teknologi asal China, Huawei atas dugaan konspirasi untuk melanggar sanksi AS atas Iran.

Secara terpisah, Departemen Kehakiman juga menuding raksasa teknologi asal China itu mencuri teknologi robotik dari operator T-Mobile US Inc, mengutip Reuters.

Dengan begini, kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin terjadi kembali merasuki investor. Apalagi kalau sampai tanggal 1 Maret belum ada kesepakatan apapun antara AS-China, bisa bisa ekonomi global tenggelam lebih dalam. Mengingat Presiden AS Donald Trump sudah mengancam akan meningkatkan tarif impor barang China senilai US$ 200 miliar dari 10% menjadi 25%.

Dalam kondisi serba tidak pasti begini investor cenderung menahan diri untuk agresif berinvestasi pada instrumen beresiko. Emas yang seringkali dijadikan pelindung nilai lantaran nilainya yang relatif stabil menjadi piihan yang rasional.

TIM RISET CNBC INDONESIA (taa/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading