Ini Penyebab S&P Turunkan Peringkat LPKR Jadi Junk

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
24 January 2019 - 21:08
Ini Penyebab S&P Turunkan Peringkat LPKR Jadi Junk
Jakarta, CNBC Indonesia - Beban tahunan dan beban bunga PTLippo Karawaci Tbk (LPKR) menjadi alasan lembaga pemeringkat global Standard&Poor's (S&P) baru menurunkan peringkat menjadi CCC+ alias junk. 

Dalam riset pemeringkatannya hari ini (24/1/19), S&P menilai kedua beban tersebut mengerdilkan arus kas operasional emiten saham dan obligasi tesebut, di tengah meningkatnya tekanan likuiditas terhadap perseroan. 

Primary Credit Analyst S&P Kah Ling Chan dalam riset tersebut menilai Lippo kaya akan aset tetapi miskin dana kas, dan keberlangsungannya akan bergantung pada penggalangan dana yang signifikan. 


Selain menurunkan peringkat utang perusahaan menjadi CCC+ dari B-, S&P turut menurunkan peringkat utang dari obligasi dolar AS perusahaan menjadi CCC+ dengan prospek (outlook) negatif. 

Prospek negatif tersebut mencerminkan potensi penurunan peringkat lebih lanjut dalam 9 bulan ke depan jika neraca kas perusahaan terus menggerus dan menghalangi penjualan aset dengan jumlah yang material. 

Chan juga menilai perusahaan akan menghadapi tantangan dalam bentuk arus kas operasional yang sedang (modest), beban finansial yang tinggi, utang jatuh tempo, dan neraca kas yang menipis. 

Kondisi tersebut, lanjutnya, akan membuat perusahaan sangat tergantung pada pencarian dana eksternal yang tentu akan menantang dan rentan terhadap kondisi pasar keuangan global. 

Di level perusahaan induk, di samping beban operasional harian, Chan memprediksi Lippo memiliki dua beban utama tahun ini yaitu Rp 1 triliun untuk pembayaran sewa ke REITS rumah sakit perusahaan yaitu First REIT; dan sekitar Rp 1,2 triliun untuk beban bunga.  

Batasan beban utang itu semakin meningkat dengan adanya jatuh tempo dari pinjaman US$ 50 juta pinjaman sindikasi yang jatuh tempo pada April 2019 dan obligasi senilai US$ 75 juta yang jatuh tempo pada Juni 2020.  

Lebih lanjut, S&P meyakini Lippo akan merestrukturisasi dan memperpanjang pinjaman sindikasi senilai US$ 50 juta itu hingga 12 bulan ke depan menjadi April 2020.  

Dia juga memprediksi likuiditas perusahaan induk tidak cukup untuk menutup kebutuhan dana Lippo, yang akan memancing penjualan aset yang substansial dan akan memakan waktu.  

Hal tersebut masih diprediksi terjadi meskipun pinjaman sindikasi tadi akan di-rollover.  

Per 30 September 2018, kas dan setara kas perusahaan senilai Rp 800 miliar di perusahaan induk (yang menanggung utang konsolidasi, termasuk surat utang perusahaan senilai US$ 910 juta).  

Lippo sudah menjual dua aset: sebagian saham di First REIT; dan sebuah rumah sakit di Myanmar.

Kami mencatat Lippo masih mempertimbangkan untuk menjual Puri Mall (mal ritel besar di Jakarta) kepada REIT ritelnya yaitu Lippo Malls Indonesia Retail Trust (LMIRT).  

Aset itu diprediksi Chan bernilai Rp 3,5 triliun-Rp 4 triliun, besar untuk dibeli LMIRT.  

Mal itu akan berporsi hampir 30% dari nilai buku REIT itu dan mendekati 60% dari kapitalisasi pasarnya.  

Tiga Syarat Supaya Tidak Turun Peringkat Lagi 

S&P juga berpotensi menurunkan peringkat utang LPKR jika terjadi tiga kondisi.  Pertama, Lippo tidak berhasil mendapatkan pendanaan Rp 1 triliun dalam 3 bulan.

Kedua, Lippo tidak dapat dana baru Rp 4 triliun dalam 6 bulan berikutnya melalui cara yang substantif, seperti dengan cara menjual asetnya.
 

Ketiga, jika Lippo melakukan transaksi di pasar modal terkait dengan surat utangnya yang masih beredar yang dinilai merupakan transaksi yang terjadi dalam kondisi tertekan (distressed exchange), termasuk pembelian di bawah harga par (modal). 

Prospek peringkat dapat dinaikkan S&P menjadi stabil jika Lippo mampu memperbaiki arus kasnya dan posisi likuiditas di tingkat perusahaan holding untuk memenuhi kebutuhan pendanaan perusahaan dalam 24 bulan ke depan.   


TIM RISET CNBC INDONESIA (irv/irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading