Analisis Teknikal

Brexit Tak Jelas, Dolar AS Masih Terlalu Perkasa Bagi Euro

Market - Yazid Muamar, CNBC Indonesia
18 January 2019 20:20
Brexit Tak Jelas, Dolar AS Masih Terlalu Perkasa Bagi Euro
Jakarta, CNBC Indonesia - Membaiknya situasi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan China di bidang perdagangan tidak mampu dimanfaatkan dengan baik oleh mata uang kuat lainnya untuk menguat.

Biasanya, ketika keadaan perekonomian dunia membaik, investor akan lebih berani berinvestasi di mata uang yang lebih beresiko dan berpaling dari dolar AS.

Susahnya penurunan level dolar AS saat ini dikarenakan kegaduhan proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau Brexit. Parlemen Inggris sempat menolak proposal Brexit yang diajukan pemerintah, bahkan Theresa May sempat di goncang mosi tidak percaya dan akan digulingkan. Beruntung voting tersebut berakhir dengan bertahannya Theresa May di posisi perdana menteri.


Belum berkurangnya keperkasaan dolar tercermin dari indeks dolar (DXY), yang menggambarkan kekuatan dolar AS di depan enam mata uang kuat dunia. Hingga pukul 19:31 WIB, DXY melemah tipis 0,02% di level 96.04.

Dolar AS sering diperbandingkan dengan euro Eropa sebagai mata uang kuat. Bobot euro di DXY juga paling besar, yakni di atas lima puluh persen.

Secara teknikal, posisi dolar AS lebih dominan menguat dibandingkan euro. Hal ini terlihat dari posisi dolar AS yang bergerak di atas rata-rata nilainya selama lima hari (moving average/MA5).

Ruang penguatan dolar AS terhadap euro masih terbuka, dolar terlihat belum menyentuh wilayah jenuh beli nilainya (overbought), berdasarkan indikator teknikal stochastic slow.

Penguatan dolar AS juga didorong kinclongnya data klaim tunjangan pengangguran. Untuk minggu yang berakhir pada 12 Januari 2018 diumumkan sebanyak 213.000 jiwa, di bawah konsensus yang sebesar 219.000, seperti dilansir dari Forex Factory.

TIM RISET CNBC INDONESIA



(yam/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading