Investigasi Huawei, Bursa Asia Berakhir Melemah

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
17 January 2019 18:12
Investigasi Huawei, Bursa Asia Berakhir Melemah
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa saham utama kawasan Asia mengakhiri hari di zona merah: indeks Nikkei turun 0,2%, indeks Shanghai turun 0,42%, indeks Hang Seng turun 0,54%, dan indeks Straits Times turun 0,45%.

Sentimen negatif bagi bursa saham regional datang dari keputusan anggota parlemen AS yang kemarin (16/1/2019) memperkenalkan rancangan undang-undang (RUU) yang akan melarang penjualan cip buatan AS beserta komponen lainnya kepada Huawei, ZTE Corp, dan perusahaan telekomunikasi China lain yang melanggar sanksi AS atau peraturan terkait ekspor.

RUU ini diperkenalkan tidak lama menjelang laporan dari Wall Street Journal yang menyebut bahwa aparat hukum AS sedang melakukan investigasi terhadap Huawei. Investigasi ini terkait dengan tuduhan bahwa Huawei telah mencuri teknologi dari rekannya di AS seperti raksasa penyedia jasa layanan telekomunikasi T-Mobile.


'Serangan' dari AS kepada Huawei lantas berpotensi membuat hubungan AS dengan China yang kini sedang mesra menjadi renggang.

Sejatinya, ada sentimen positif terkait dengan perang dagang AS-China. Pada hari ini, terlepas dari 'serangan' AS kepada Huawei, Kementerian Perdagangan China mengatakan bahwa Wakil Perdana Menteri Liu He yang merupakan tokoh penting dalam negosiasi dagang kedua negara akan berkunjung ke Washington pada 30 dan 31 Januari. Sayang, pengumuman ini terjadi kala perdagangan di mayoritas bursa saham regional sudah ditutup, sehingga dampaknya menjadi tak mereka rasakan.

Liu He akan bertemu dengan dengan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer, tokoh penting lainnya dalam negosiasi dagang AS-China.

Sentimen negatif bagi bursa saham Asia juga datang dari rilis data ekonomi di kawasan regional. Pada pagi ini, ekspor non-minyak Singapura periode Desember 2018 diumumkan anjlok hingga 8,5% YoY, jauh di bawah konsensus Trading Economics yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 1,5% YoY. Akibat anjloknya ekspor non-minyak, surplus neraca dagang bulan Desember menipis menjadi SG$ 1,94 miliar, dari yang sebelumnya SG$ 3,8 miliar pada bulan November.

TIM RISET CNBC INDONESIA
(ank/ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading