Penjelasan Lengkap Gubernur BI dari Ekonomi RI & Shutdown AS

Market - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
02 January 2019 15:15
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo buka-bukaan mengenai kondisi perekonomian Indonesia.
Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo buka-bukaan mengenai kondisi perekonomian Indonesia. Mulai dari pertumbuhan ekonomi, defisit transaksi berjalan, hingga rupiah.

Selain itu, bos bank sentral ini pun berbicara mengenai sentimen dari ditutupnya pemerintahan Donald Trump, perundingan perdagangan antara Amerika Serikat dan China, serta perkembangan lainnya.

Satu hal yang pasti, arah kebijakan moneter BI tahun ini akan tetap mengedepankan stabilitas. Namun, bank sentral menegaskan akan tetap menggunakan instrumen lainnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.


Berikut penjelasan lengkap Perry Warjiyo terkait hal itu, seperti dikutip CNBC Indonesia, Raby (2/1/2018) :

Alhamdulillah kita melalui 2018 dengan capaian kinerja ekonomi yang cukup baik. Insyallah di 2019 kinerja ekonomi akan lebih baik dengan pertumbuhan yang lebih tinggi dan stabilitas yang tetap terjaga.

Menegaskan saja, pertama pertumbuhan ekonomi kami perkirakan di 2019 5-5,4%, kalau dihitung nilai tengahnya adalah 5,2%. secara keseluruhan lebih tinggi atau lebih baik daripada estimasi di 2018 perkiraan kami 5,1%. Sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dari domestik itu cukup kuat baik dari konsumsi maupun investasi.

Pertumbuhan konsumsi masih bisa mencapai 5,2% termasuk dari dampak pemilu, investasi bisa tumbuh sekitar 7%. Permasalahannya adalah net eksternal demand atau ekspor dikurangi impornya yang masih negatif.

CAd sebagaimana kami sampaikan kita perkirakan akan lebih rendah dari tahun 2018. Tahun 2018 secara keseluruhan 3% perkiraan kami masih sekitar 3%. tahun 2019 sekitar 2,5% PDB. Secara keseluruhan CAD tidak hanya lebih rendah tapi juga neraca pembayaran juga akan lebih mengalami surplus.

Di 2018 saya sampaikan sebelumnya di triwulan IV memang CAD masih di atas 3% tapi surplus aliran modal asing itu lebih besar sehingga secara keseluruhan neraca pembayaran di triwulan IV-2018 itu mengalami surplus. Ya mungkin sekitar US$ 4 miliar.

Inflasi kami perkirakan tetap 3,5% plus minus 1, titik tengah 3,5% perkiraan kami. Alhamdulillah di 2018 inflasinya lebih rendah dari yang kita perkirakan 3,2%, realisasi 3,1%. Semua komponen dari inflasi terkendali termasuk inflasi inti, volatile food, maupun adminstered price. Di tahun 2019 kami optimis inflasi tetap terkendali dikisaran 3,5% plus minus 1. Perkiraan kami adalah 3,5%.

Pertumbuhan kredit di kisaran 10-12%, pertumbuhan dana pihak ketiga 8-10% pertumbuhannya. Kami akan pastikan likuiditas perbankan cukup.

Terakhir mengenai nilai tukar kami, Alhamdulillah nilai tukar di 2018 itu terkendali stabil dengan depresiasi yang kurang dari 6% atau 5,9% jauh lebih rendah dari depresiasi yang dialami India, maupun negara negara lain, termasuk Brazil, South Africa, Turki, maupun Argentina. Keseluruhan depresiasi rupiah di 2018 relatif terkendali dengan volatilitas yang terjaga kurang lebih 8% volatilitasnya.

2019 kami masih melihat bahwa rupiah akan bergerak lebih stabil dan cenderung menguat. Kami melihat bahwa rupiah saat ini masih undervalued.

Seperti disampaikan, sejumlah faktor akan mendorong pergerakan rupiah lebih stabil dan cenderung menguat ke depan. Satu kenaikan fed fund rate yang memang lebih rendah dari yang kita perkirakan. Kedua, kredibilitas kebijakan yang ditempuh oleh BI, maupun pemerintah. Ketiga, CAD yang lebih rendah, dan keempat adalah mekanisme pasar yang semakin berkembang tidak hanya spot, swap maupun di DNDF

Government Shutdown

Dampaknya apa? tentu ada dua hal, tidak adanya stimulus fiskal ini akan menyebabkan juga geliat ekonomi AS tidak setinggi sebelumnya. Diperkirakan 2019 ekonomi AS akan turun dari 2,5% menjadi 2%.

Yang kedua, ini juga akan menurunkan confidence pasar terhadap kinerja ekonomi AS ke depannya. Makanya terjadi koreksi di harga saham, yang kemudian memberikan dampak.

Tapi yang perlu kita cermati sekarang justru bagaimana kelanjutan positif dari perundingan perdagangan antara AS dan China. Kan semakin hari semakin ada tanda titik temu untuk mencari kesepakatan. Kalau ini terjadi, tentu dampak negatif yang selama ini diperkirakan baik kepada AS maupun China tidak seburuk itu.

Kan ketegangan AS dan China akan memberikan dampak yang negatif terhadap kedua ekonomi. Ekonomi AS dan China akan lebih rendah kalau ketegangan terus terjadi. Dan itu tidak baik bagi pertumbuhan ekonomi global. Tapi berita positif ada tanda perundingan perdagangan. Semoga itu tidak memperburuk situasi dan keuangan global.





Artikel Selanjutnya

Gerak Cepat, Ini 5 Kebijakan Baru BI di Tengah Virus Corona


(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading