Kementerian BUMN Lapor DPR, Utang Telkom Capai Rp 43,33 T

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
03 December 2018 19:19
Nilai utang Grup Telkom tersebut meningkat 41,2% dibandingkan periode yang sama 2017.
Jakarta, CNBC Indonesia - Total nilai utang PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom Grup dalam 9 bulan pertama 2018 mencapai Rp 43,33 triliun, di luar utang sewa pembiayaan. Nilai utang Grup Telkom tersebut meningkat 41,2% dibandingkan periode yang sama 2017.

Hal tersebut disampaikan dalam paparan Kementerian Badan Usaha Milik Negera (BUMN) kepada Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dalam rapat tersebut dipaparkan pula, bahwa peningkatan nilai utang tersebut membuat rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) Telkom naik menjadi 0,48 kali dari 0,34 kali.

Dalam paparannya juga disebutkan peningkatan utang tersebut terjadi karena kebutuhan belanja modal dan ekspansi perusahaan. Fasilitas pembiyaan (utang) jangka pendek yang dilakukan anak usaha dilakukan untuk keperluan modal kerja, salah satunya oleh anak usaha dalam mata uang dolar.


Berdasarkan laporan keuangan kuartal III-2018 yang dipublikasikan perseroan di Bursa Efek Indonesia, total liabilitas Rp 98,61 triliun.

Sebelumnya, dipaparkan juga hingga akhir September 2018 total utang BUMN Indonesia mencapai Rp 5.271 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 3,311 triliun disumbang dari BUMN sektor keuangan, dengan komponen terbesarnya berupa dana pihak ketiga (DPK) perbankan yang mencapai 74% dari total utang.

Demikian bahan paparan Kementerian BUMN dalam rapat dengan Komisi VI DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (3/12/2018).

Selain dari DPK, utang BUMN sektor keuangan tersebut disumbang dari cadangan premi, dan akumulasi iuran pensiun sebesar Rp 335 triliun (10%).

Dari bahan tersebut, sebesar Rp 1.960 triliun utang BUMN berasal dari sektor non keuangan. Rinciannya, sektor listrik sebesar Rp 543 triliun atau 28% dari total utang BUMN non keuangan.

Lalu BUMN sektor migas sebesar Rp 522 triliun (27%), sektor properti dan konstruksi Rp 317 triliun (15%), sektor telekomunikasi Rp 99 triliiun (5%), sektor transportasi Rp 75 triliun (4%), dan sektor lain-lain Rp 403 triliun (20%). (hps/wed)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading