Eksklusif: Krakatau Steel Incar Pabrik Baja Kolaps

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
23 November 2018 - 17:48
Eksklusif: Krakatau Steel Incar Pabrik Baja Kolaps
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) berencana akan mengakuisisi sejumlah perusahaan baja nasional yang sudah mulai berhenti beroperasi. Ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan kinerja perseroan dengan pola anorganik.

Direktur Utama Krakatau Steel, Silmy Karim, mengatakan sedang mengincar beberapa pabrik baja yang sudah setop produksi akibat tekanan dari masuknya baja impor.

"Tentunya kalau bicara bisnis, kita ada pertumbuhan natural dan non natural seperti mengakuisisi. Kami sedang mengkaji untuk mengakuisisi beberapa pabrik yang tidak beropersi secara optimal," ujar Silmy ketika berbincang dengan CNBC Indonesia, Jumat (23/11/2018).


Sementara itu, pertumbuhan organik akan dilakukan dengan mengoperasikan pabrik blast furnace di akhir Desember tahun ini. Pembangunan pabrik ini sesuai dengan jadwal dan tidak ada kendala penundaan lagi.

"Ini akan menambah output untuk bahan baku steel. Lalu, penyelesaian pembangunan pabruk hot strip mill II yang akan beroperasi sekitar April atau Mei. Ini akan menambah produksi 1,5 juta ton," jelas Silmy.


Melalui akusisi pabrik yang sudah berhenti beroperasi, perseroan menargetkan pada 2019 bisa menambah produksi 1 juta ton. Ini sekaligus untuk mendukung program pemerintah memenuhi produksi 10 juta ton di kluster industri baja Cilegon.

Ini merupakan salah satu cara perseroan untuk memperbaiki kinerja perseroan yang dalam lima tahun terakhir merugi. Pada 2019, perseroan menargetkan bisa membukukan kinerja positif.

Krakatau Steel Incar Pabrik Baja KolapsFoto: Krakatau Steel (ist)


Hingga kuartal III-2018, perseroan berhasil mengurangi rugi bersih menjadi US$ 37,38 juta (Rp 560,07 miliar, kurs Rp 15.000/US$) dibanding dengan rugi di periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$ 75,04 juta (Rp 1,12 triliun).

Di periode tersebut, perusahaan berhasil meningkatkan penjualannya 22,71% menjadi US$ 1,27 miliar (Rp 19,14 triliun) dari posisi di akhir September 2017 yang sebesar US$ 1,03 miliar (Rp 15,59 triliun).

Dengan demikian, nilai rugi per sahamnya juga mengalami penurunan menjadi US$ 0,0019/saham dari sebelumnya sebesar US$ 0,0039/saham. (hps/ray)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading