Harga Batu Bara di Titik Terendah Dalam 6 Bulan, Ada Apa?

Market - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
19 November 2018 12:32
Harga Batu Bara di Titik Terendah Dalam 6 Bulan, Ada Apa?
Jakarta, CNBC IndonesiaHarga batu bara Newcastle turun 1,58% ke US$ 102,5/ Metrik Ton (MT) pada penutupan perdagangan hari Jumat (16/11/2018). Dengan pergerakan itu, harga batu bara terperosok ke level terendahnya dalam 6 bulan terakhir, atau sejak pertengahan Mei 2018.

Dalam sepekan, harga batu bara tercatat anjlok sebesar 3,21% secara point-to-point. Sejumlah sentimen negatif memang datang mengeroyok harga komoditas ini.

Dari mulai tingkat konsumsi China yang lemah, persepsi perlambatan ekonomi global, hingga pemangkasan impor China. Tim Riset CNBC Indonesia akan mengelaborasikan sejumlah sentimen itu satu per satu.




Pertama, meski sudah memasuki musim dingin, tingkat konsumsi batu bara masih cukup lemah di China. Mengutip China Coal Transport & Distribution, konsumsi batu bara di China bagian tengah dan selatan masih cukup lambat.

Hal ini dipertegas dengan stok batu bara yang memang masih berada di level yang tinggi. Menurut data China Coal Resource, stok batu bara pada 6 pembangkit listrik utama China meningkat dalam 5 pekan secara berturut-turut, ke level tertingginya sejak Januari 2015. Teranyar, stoknya meningkat 0,59% secara mingguan (week-to-week/WtW) ke level 17,06 juta ton, per akhir pekan lalu.

Dengan tingginya tingkat stok batu bara tersebut, lantas investor mengekspektasikan bahwa permintaan impor batu bara Beijing masih akan lesu. Istilahnya, kebutuhan batu bara di China masih akan tercukupi oleh melimpahnya stok saat ini. Hal ini lantas menekan harga batu bara pada pekan lalu.

Kedua, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China dan pejabat bea melakukan pertemuan dengan produsen listrik pada hari Rabu (14/11/2018) siang waktu setempat.

Mengutip Futures Daily, pemerintah China nampaknya akan merencanakan perpanjangan pembatasan impor hingga Februari 2019. Rencana itu muncul setelah stok batu bara di pembangkit listrik sudah berada di level yang amat tinggi. Pada akhirnya, kebutuhan impor perlu dibatasi dalam rangka mengendalikan polusi udara yang memang biasanya memuncak pada musim dingin.

Sebelumnya, pemerintah China memutuskan untuk membatasi impor batu bara di sepanjang tahun 2018, mengutip laporan dari Shanghai Securities News, seperti dilansir dari Reuters. Impor batu bara di tahun ini ditetapkan tidak boleh melebihi volume impor pada tahun 2017, dalam rangka menjaga harga batu bara domestik tetap tinggi hingga akhir tahun ini.

Dengan pembatasan hingga akhir tahun itu saja, volume impor batu bara China di November-Desember 2018 diramal turun sebesar 25-35 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya. Apabila diperpanjang hingga Februari 2019, jelas permintaan impor China pun akan terdisrupsi lebih besar. Jelas harga batu bara pun tak bisa lepas dari koreksi.

Sebagai catatan, China adalah konsumen utama batu bara dunia, mencapai 1.892,6 MT pada 2017 atau 51% dari total permintaan dunia. Satu negara menguasai lebih dari separuh permintaan global. Dinamika permintaan impor China akan sangat memengaruhi pergerakan harga batu bara dunia. 

Ketiga, perang dagang mulai melemahkan ekonomi China dan sekitarnya. Pekan lalu, bank AS Morgan Stanley menyatakan bahwa "kondisi ekonomi China memburuk secara material" pada kuartal III-2018.

Kemudian, pembacaan awal pertumbuhan ekonomi Jepang kuartal-III 2018 diumumkan sebesar -1,2% secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih buruk dari estimasi pelaku pasar yakni minus 1% saja. Kontraksi ini disebabkan oleh ekspor yang turun 1,8%, penurunan terdalam dalam lebih dari 3 tahun terakhir. Sementara investasi terkontraksi 0,2%, pertama kali dalam 2 tahun.

Persepsi perlambatan ekonomi dunia lantas menjadi indikasi bahwa permintaan komoditas global juga akan menurun. Hal ini lantas menekan harga batu bara lebih lanjut. 

(TIM RISET CNBC INDONESIA)
(RHG/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading