Bursa Saham Global "Kebakaran", Harga Batu Bara Merosot

Market - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
24 October 2018 11:47
Bursa Saham Global
Jakarta, CNBC IndonesiaHarga batu bara Newcastle kontrak acuan terkoreksi 0,54% ke level US$ 109,5/Metrik Ton (MT) pada penutupan perdagangan hari Selasa (23/10/2018). Dengan pergerakan itu, harga si batu hitam memutus penguatan 4 hari berturut-turut sebelumya, hingga kembal jatuh ke bawah level psikologis US$ 110/MT.

Sentimen utama yang menjadi pemberat bagi harga batu bara datang dari amblasnya bursa saham dunia pada perdagangan kemarin. Selain itu, pembatasan impor batu bara China, serta tingginya tingkat stok batu bara di pembangkit listrik Negeri Panda, juga menjadi beban bagi pergerakan harga.




Bursa saham Wall Street kompak ditutup di jalur merah pada perdagangan kemarin. Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 0,5%, S&P 500 minus 0,55%, dan Nasdaq Composite berkurang 0,32%.

Sebelumnya, bursa Asia juga "kebakaran". Indeks Nikkei 225 ditutup anjlok 2,67%, Shanghai Composite amblas 2,26%, Hang Seng ambrol 3,08%, Strait Times jatuh 1,52%, dan Kospi terpangkas 2,57%.

Berbagai macam sentimen negatif memang masih membayangi pergerakan bursa saham dunia, pe mulai tensi AS-Arab Saudi, perang dagang AS-China, hingga drama fiskal Italia vs Uni Eropa.

Koreksi berjamaah bursa saham dunia lantas menjadi persepsi yang dapat mengancam keyakinan bisnis dan investasi secara global. Akibatnya, permintaan energi dunia pun diekspektasikan melambat. Akhirnya, harga batu bara pun tak bisa lepas dari koreksi.

Selain itu, sekitar dua pekan lalu pemerintah China memutuskan untuk memperpanjang pembatasan impor batu bara hingga akhir tahun 2018, mengutip laporan dari Shanghai Securities News, seperti dilansir dari Reuters.

Impor batu bara di sepanjang tahun 2018 ditetapkan tidak boleh melebihi volume impor pada tahun 2017, dalam rangka menjaga harga batu bara domestik tetap tinggi hingga akhir tahun ini.

China adalah konsumen utama batu bara dunia, mencapai 1.892,6 metrik ton pada 2017 atau 51% dari total permintaan dunia. Satu negara menguasai lebih dari separuh permintaan global, sehingga sentimen menurunnya permintaan impor dari China akan sangat mempengaruhi harga. 

Faktor negatif terakhir yang menekan harga adalah tingkat konsumsi batu bara di pembangkit listrik China yang masih cukup lemah saat ini. Akibatnya, stok batu bara di 6 pembangkit listrik utama di Negeri Tirai Bambu per 12 Oktober lalu, tercatat meningkat 2,4% dibandingkan 2 pekan sebelumnya, hingga menembus angka 15,06 juta ton.

Peningkatan stok tentunya akan menjadi sentimen bahwa impor batu bara China akan melambat ke depannya. Hal ini lantas menjadi pemberat tambahan bagi harga batu bara pada perdagangan kemarin.

(TIM RISET CNBC INDONESIA)
(RHG/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading