Dari Ampas Makanan Sampai Laptop, Ini Barang Impor Favorit RI

Market - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
16 October 2018 12:26
Dari Ampas Makanan Sampai Laptop, Ini Barang Impor Favorit RI
Jakarta, CNBC IndonesiaBadan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru nilai perdagangan Indonesia per September 2018. Dari data tersebut, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus senilai US$ 230 juta.

Sektor nonmigas menjadi faktor pendorong surplus bulan lalu, dengan catatan nilai ekspor sebesar US$ 13,62 miliar dan nilai impor US$ 12,32 miliar.

Meski demikian, secara tahunan (year-on-year/YoY), impor non-migas bulan September 2018 sudah naik sebesar 13,54%. Secara kumulatif, di sepanjang periode Januari-September 2018 impor non-migas juga meningkat hingga 22,64% YoY.


Lantas, barang-barang non-migas apa saja sih yang membuat Indonesia ketagihan impor? Berikut ulasan Tim Riset CNBC Indonesia.

Berdasarkan keterangan Badan Pusat Statistik (BPS), golongan barang non-migas penyumbang nilai impor terbesar di September 2018 adalah Mesin-mesin/pesawat mekanik (HS 84) dan Mesin/peralatan listrik (HS 85), masing-masing dengan nilai impor US$ 2,18 miliar dan US$ 1,7 miliar.

BACA: Banjir Barang Impor Dari Mesin Pesawat sampai Ampas Makanan

Apabila ditelusuri lebih detil, barang-barang yang paling banyak diimpor di kelompok HS 84 adalah Laptop termasuk notebook (HS 84713020) dan Mesin Sekop yang dapat berputar 360 derajat di atas dasarnya (HS 84295200). Untuk barang yang terakhir disebut nampaknya mencakup alat berat sejenis excavator.

Pada periode Januari-Juli 2018, nilai impor laptop cs mencapai US$ 550,16 juta secara kumulatif, sedangkan nilai impor excavator cs mencapai US$ 538,75 juta. Nilai impor excavator cs bahkan tumbuh nyaris 50% dari periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, barang-barang kelompok HS 85 yang paling banyak diimpor adalah Suku cadang transmisi/penerima dari telepon seluler (HS 85177021). Suku cadang HP ini diimpor hingga US$ 1,39 miliar pada periode Januari-Juli 2018, atau mengalami pertumbuhan 48,19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Apa Sih Ampas Industri Makanan yang Sering Diimpor RI?

Jika beralih ke sektor lainnya, BPS mencatat bahwa RI juga mengimpor Serealia (HS 10) dan Ampas/sisa industri makanan (HS 23) dalam jumlah yang cukup besar, pada bulan lalu.

Ampas/sisa industri makanan bahkan diimpor senilai US$ 217 juta (sekitar Rp 3 triliun) pada bulan September. Apa itu sebenarnya ampas/sisa industri makanan (HS 23)?

Berdasarkan penelusuran Tim Riset CNBC Indonesia, barang-barang anggota kelompok HS 23 yang paling banyak diimpor RI adalah Bungkil dan Residu padat, hasil ekstraksi minyak kacang kedelai, tidak untuk dikonsumsi manusia (HS 23040090).

Pada periode Januari-Juli 2018, jenis bungkil kedelai tersebut diimpor ke tanah air dengan jumlah yang amat masif, yakni US$ 1,11 miliar! Capaian itu meningkat 16,06% dari periode yang sama tahun lalu.

Bungkil kedelai atau sering disebut Soybean meal adalah bahan pakan limbah pengolahan biji kedelai menjadi minyak kedelai. Bungkil kedelai umumnya digunakan sebagai sumber pakan protein utama bagi unggas karena kandungan protein yang sangat tinggi serta memiliki komposisi asam amino yang sangat lengkap. Pada sapi perah pemberian bungkil kedelai dalam konsentrat dapat meningkatkan kualitas protein.

Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) pernah menyatakan bahwa bungkil kedelai merupakan komponen penting sebagai bahan baku pakan. Bungkil kedelai mengisi 25% dari total pakan yang diberikan kepada ternak.

Karena di dalam negeri tidak ada industri minyak kedelai, maka mau tidak mau bungkil kedelai pun 100% diimpor dari luar negeri.  Adapun negara pemasok utamanya adalah Argentina dan Brasil.

Sementara, untuk kelompok Serealia (HS 10), barang yang paling banyak diimpor adalah Biji gandum tanpa cangkang, layak untuk dikonsumsi manusia (HS 10019912). Nilai impornya pada periode Januari-Juli 2018 mencapai US$ 1,05 miliar, naik tipis 0,76% dari periode yang sama tahun lalu.

Biji gandum merupakan bahan baku bagi berbagai makanan olahan, bisa dalam bentuk terigu untuk dibuat camilan, kue, dan lain sebagainya. Dapat juga dijadikan roti untuk bahan dasar membuat sandwich, roti manis isi, pizza, dan lain sebagainya. Selain itu, juga dapat digunakan untuk membuat bubur gandum atau sering disebut oat meal atau sejenisnya.

Meski demikian, setidaknya hingga Juli 2018, barang non-migas yang paling banyak diimpor oleh RI adalah Emas dalam bentuk bongkah, ingot, atau batang tuangan (HS 71081210). Nilai impor komoditas ini selama 7 bulan awal tahun ini mencapai US$ 1,4 miliar.

Berikut daftar 5 besar barang-barang non-migas yang paling banyak diimpor RI selama periode Januari-Juli 2018.




 


(RHG/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading