Morgan Stanley Paparkan Dampak Naiknya Bunga Acuan BI

Market - Alfado Agustio, CNBC Indonesia
01 October 2018 18:19
Morgan Stanley Paparkan Dampak Naiknya Bunga Acuan BI
Jakarta, CNBC Indonesia Bank Indonesia (BI) pada kamis pekan lalu, menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke level 5,75%. Terhitung BI-7 Day Reverse Repo Rate sudah naik hingga 150 bps atau lima kali hingga tahun ini.  Pergerakan rupiah yang telah menembus level psikologis Rp 14.900/US$, menjadi salah satu pertimbangan BI bertindak lebih agresif. 

Dinamika ekonomi global yang begitu kuat ditambah minimnya sentimen dari dalam negeri dapat menyebabkan pelemahan rupiah jauh lebih dalam jika BI tidak bertindak.
 

Pada penutupan perdagangan Senin (1/10/2018), US$ 1 ditutup pada level Rp 14.905/US$ atau melemah 0,03% dibandingkan posisi akhir pekan lalu.  Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Morgan Stanley seperti yang diterima oleh tim CNBC Indonesia pada Senin, setidaknya ada dua tujuan yang ingin dicapai BI melalui instrumen kenaikan suku bunga acuan.    


Pertama, kenaikan ini sebagai upaya untuk mengelola defisit transaksi berjalandalam batas aman. Seperti yang diketahui, biang kerok penyebab pelemahan rupiah adalah transaksi berjalan yang masih defisit. Pada kuartal II-2018, defisit transaksi berjalan mencapai 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau tertinggi sejak kuartal II-2014.

Bahkan di kuartal III diperkirakan defisit tersebut akan membengkak seiring neraca perdagangan periode Juli-Agustus yang sudah defisit US$ 3,05 miliar. Guna mengimbangi defisit tersebut, BI perlu mengundang arus modal asing masuk dengan menaikkan suku bunga acuan.  

Kenaikan suku bunga acuan akan mendorong instrumen berpendapatan tetap seperti Obligasi akan menarik di mata investor. Sebab, kenaikan suku bunga acuan biasanya akan mendorong yield obligasi bergerak naik. Jika arus modal asing yang masuk cukup deras, akan membantu pengendalian defisit transaksi berjalan.  

Kedua, untuk meningkatkan daya tarik pasar keuangan Indonesia di mata investor global. Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa kenaikan suku bunga acuan berdampak kepada kenaikan yield obligasi.  

Ketika yield semakin tinggi, maka imbal hasil yang diterima semakin besar. Tentu ini menjadi pertimbangan investor asing untuk mau berinvestasi ke pasar keuangan Indonesia. Aliran modal yang masuk tentu mendorong rupiah bisa bergerak menguat.  

Terlebih saat ini, likuiditas global semakin ketat. Bank-bank sentral di Asia ramai-ramai menaikkan suku bunga acuannya guna mengundang arus modal masuk. Di tahun ini, terhitung ada 10 bank sentral yang telah menaikkan suku bunga acuannya.  



Kenaikan suku bunga acuan, dikhawatirkan akan memperlambat laju pertumbuhan kredit. Namun dalam riset tersebut, laju pertumbuhan kredit justru meningkat. Misalnya ke sektor modal kerja yang meningkat dari 8,5% Year-on-Year (YoY) ke 11,6% YoY.

Di sektor investasi juga tumbuh dari 4,8% YoY ke 10,7% YoY.
 Pertumbuhan ini mencerminkan bank-bank masih mampu menggenjot pembiayaannya, terutama melihat ekonomi Indonesia yang masih positif di level 5%.

Kenaikan suku bunga acuan nampaknya tidak berpengaruh terhadap pinjaman yang berorientasi bisnis. Lantas, bagaimana dengan sektor konsumsi?
 Terhadap sektor tersebut, nampaknya imbas negatif mulai terasa khususnya di sektor properti.

Dampak yang paling terlihat, bagaimana bank-bank besar seperti BCA dan BRI yang menaikkan tingkat hipotek hingga 70 bps. Kenaikan ini tentu berdampak kepada beban konsumen yang tentu semakin meningkat.
  


TIM RISET CNBC INDONESIA







 
(alf/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading